“Jadilah Pewarta Keselamatan”: Renungan, Minggu 3 Februari 2019

0
2467

Hari Minggu Biasa IV (H).

Yer. 1,4-5, 17-19; Mzm. 71:1-2,3-4a, 5-6ab, 15ab,17; 1Kor. 12:31-13:13 (1Kor. 13:4-13); Luk. 4:21-30.

Janji keselamatan yang ditawarkan oleh Allah adalah kabar gembira bagi manusia. Kabar gembira itu disampaikan Allah melalui para nabi dan terpenuhi dalam diri Kristus, Putera-Nya. Meskipun janji keselamatan itu adalah sebuah kabar gembira bagi manusia, namun dalam kenyataannya tidak semua orang langsung menerimanya. Bahkan ada yang menolak dan mengabaikannya.

Janji Allah untuk menyelamatkan manusia menjadi bukti cinta kasih-Nya. Untuk mewujudkan janji-Nya, Allah mengutus para nabi. Nabi Yeremia, salah satu dari sekian nabi yang dipanggil dan diutus Allah untuk mewartakan janji keselamatan tersebut. Yeremia dipanggil untuk menjadi saksi cinta Tuhan kepada umat-Nya. Kabar keselamatan yang disampaikan nabi Yeremia mengusik kenyamanan para raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, serta menentang para imamnya dan rakyat pada zamannya. Karena mengusik kenyamanan, maka kabar keselamatan yang harusnya menggembirakan itu ditolak. Bahkan, Yeremia pun ditolak.

Yeremia, yang pada mulanya merasa gentar, tetap terus mewartakan kabar keselamatan itu, karena ia yakin bahwa Allah menyertainya. Apa yang diwartakan oleh para nabi dan Yeremia dipenuhi dalam diri Kristus. Kehadiran Kristus menggenapi janji keselamatan Allah yang diberikan kepada manusia. Yesus datang membawa kabar gembira bukan lagi hanya kepada orang-orang Yahudi saja, tetapi kepada semua orang. Pewartaan yang disampaikan Yesus mengusik kemapanan orang-orang Yahudi, para imam, ahli Taurat dan kaum Farisi. Mereka bersikap skeptis terhadap pewartaan Yesus, bahkan mereka tidak percaya pada Yesus dan menolak-Nya.

Kini, kabar gembira yang menyelamatkan itu tetap ada. Gereja sebagai Tubuh Kristus dipanggil dan diutus untuk melanjutkan karya tersebut. Gereja telah menerima macam-macam karunia untuk melanjutkan karya Kristus di dunia. Namun, melalui suratnya kepada umat di Korintus, St. Paulus mengingatkan bahwa macam-macam karunia yang diterima oleh Gereja untuk mewartakan kabar keselamatan haruslah didasarkan pada cinta kasih. Kasih harus menjadi dasar dan penyemangat Gereja dalam mengemban tugas tersebut. Dan kasih yang sempurna adalah kasih yang didasarkan pada Allah yang memberi janji keselamatan itu.

Gereja adalah kita. Dengan tugas dan tanggungjawab masing-masing; dalam keluarga, Gereja dan masyarakat, kita menjadi pewarta-pewarta kabar keselamatan itu. Tantangan dan kesulitan pasti akan dialami bahkan mungkin sampai menderita. Tapi, yakinlah bahwa Tuhan tidak akan membiarkan para pewarta kabar keselamatan-Nya. Tuhan akan menyertai kita. Karena itu, dengan keberanian, harapan dan iman, marilah kita terus-menerus mewartakan kabar gembira, dalam perkataan dan perbuatan sehari-hari.

(P. Jifon Motikas, Pr)

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya”

(Luk. 4: 24).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, buatlah kami percaya pada Putera-Mu, dengan menaruh iman, harapan dan kasih kami kepada-Nya. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini