“Ahli Taurat Sekarang”: Renungan, 28 Januari 2019

0
4297

Pw S. Tomas Aquino, ImPujG (P)

Ibr.  9: 15,24-28; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4,5-6; Mrk. 3:22-30

Dunia zaman sekarang tampil dengan wajah yang sangat berbeda. Menampilkan unsur yang berbeda dengan zaman klasik. Hal demikian nampak melalui kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan demikian memetakan zaman sekarang dengan zaman  klasik. Suatu apresiasi patut diberikan karena manusia menjadi sumber transformasi dan evolusi dunia sekarang. Adalah sebuah fakta bahwa manusia mampu mengembangkan dunia. Walau terdapat pelbagai perkembangan yang signifikan, banyak hal klasik yang masih kita jumpai dalam zaman sekarang. Misalnya, martabat manusia direndahkan, korupsi, pemerkosaan dan sebagainya.

Sabda Tuhan hari ini menampilkan suatu kontradiksi antara Yesus dan para ahli Taurat. Suatu dialog kontroversial yang mewarnai kedua bela pihak. Tindakan Yesus dengan mengusir roh jahat rupanya mendapat respon yang tidak baik dari para ahli Taurat. Penolakan demikian ditandai oleh sikap  angkuh, dengki, iri hati, benci dan sebagainya. Kehadiran Yesus dipandang sebagai penghalang bahkan sebagai pencipta permusuhan terhadap mereka. Akhirnya,  sikap yang diambil adalah negasi terhadap kehadiran Yesus. Penolakan merupakan sikap tepat bagi para ahli Taurat demi  kenyamanan posisi mereka. Penolakan nampak secara jelas dalam tuduhan mereka kepada Yesus.

Padahal Yesus adalah sang penyelamat dunia. Ia datang untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa. Kehadirannya merupakan sikap solider Allah terhadap manusia. Karena cinta, Ia rela datang, mengalami hidup sebagai seorang manusia bahkan menyelamatkan umat manusia. Misi utama yang diemban adalah menghadirkan  Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia. Misi demikian sangat jelas nampak dalam karya dan tindakan Yesus.

Dunia sekarang telah mengubah wajahnya sedemikian rupa sehingga tampil secara berbeda. Namun, sikap seorang Ahli Taurat masih menjadi fenomena dalam zaman sekarang. Pola pikir dan tindakan kita sering menjadi representasi dari para ahli Taurat. Misalnya, keangkuhan, tinggi hati, dengki, iri, negasi dan sebagainya. Sikap demikian merupakan problem besar bagi kehidupan sehari-hari. Bahkan sikap dan tindakan demikian dapat berakhir dengan hujatan terhadap Roh Kudus. Tentang  hal ini, tidak ada sebuah pengampunan untuk selamanya. Sebab dosa menghujat Roh Kudus merupakan dosa besar yang tidak dapat diampuni. Hukuman setimpal akan diberikan kepada  orang-orang seperti demikian. Oleh karena itu, bertobat menjadi panggilan yang sangat penting untuk ditanggapi secara positif. Agar sebagai orang Kristen, kita menjadi semakin serupa bukan dengan ahli-ahli Taurat tetapi dengan Yesus sendiri.

(Fr. Ignatius Kisa )

“Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal” (Mrk. 3:29).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berikanlah roh kebijaksanaan dan pengenalan kepadaku agar mampu mengenal engkau sumber keselamatan. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini