“Visi Hidup Kristiani”: Renungan, Rabu 21 November 2018

0
1995

Pw SP Maria Dipersembahkan kepada Allah (P)

Why. 4:1-11; Mzm. 150:1-2,3-4,5-6; Luk. 19:11-28

Menjadi kudus dan sempurna adalah dambaan setiap insan. Pandangan ini dibentuk karena hasrat hati manusia yang terdalam adalah menjadi sempurna, sebagaimana Kristus sendiri berpesan “haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Tetapi kenyataan riil tidaklah selalu serupa dengan visi yang semula dibentuk. Fokus hidup sebagai manusia kudus dan sempurna lambat laun menjadi buyar.

Injil hari ini mengungkapkan bagaimana sebenarnya visi manusia yang kudus itu menjadi buyar. Salah satu buktinya adalah ketika orang tidak dapat menerima dan menghargai sesamanya. Ketika Yesus tampil sebagai penguasa, banyak orang tidak dapat menerimanya. Perumpamaan yang ditampilkan tidak menekankan pada berapa hasil uang yang dilipatgandakan, tetapi justru ketika orang tidak bisa menerima sang bangsawan sebagai raja. Fokusnya ialah pada Yesus yang akan dinobatkan sebagai raja, tetapi ditolak oleh banyak orang.

Ini karena mereka tidak mau menerima dan menghargai sesamanya. Apalagi ketika ia menjadi besar dan berkuasa. Orang mulai mencari cara bagaimana menjatuhkannya. Begitulah anarkisme manusiawi ketika orang tidak mampu menerima dan menghargai sesamanya. Kebencian adalah pemicu utamanya. Pemikiran semacam ini pada gilirannya membuyarkan visi hidup Kristen yakni menjadi kudus.

Setiap orang kudus semestinya mampu menerima dan menghargai sesama. Berkuasa atau tidak berkuasa, berpengaruh atau tidak berpengaruh, lemah atau kuat, tetaplah ia dihargai. Karena keutamaan Kristen terletak pada kerendahan hati dan sikap belas kasih akan sesama.

Gambaran menjadi orang kudus telah dibuktikan oleh dua orang hamba yang telah melipatgandakan mina yang dipercayakan kepada mereka. Ada yang sepuluh kali lipat dan ada lima kali lipat. Ini mau menunjukkan bahwa untuk menjadi murid Kristus orang perlu berinovasi untuk mengembangkan kehidupannya. Pertumbuhan dan perkembangan itulah dinamika iman kristiani. Apalagi ketika partisipasi tersebut menghasilkan buah melimpah. Pada gilirannya orang mendapat ganjaran istimewa, yakni kehidupan abadi bersama Allah.

Yohanes melukiskan dengan indah bagaimana kediaman Allah itu. Ada sejumlah orang kudus dengan rupa-rupa wujud, sambil menundukkan kepala penuh hormat sujud menyembah Allah. Mereka telah menyaksikan misteri kemuliaan Allah yang mengagumkan. Demikianlah sepantasnya setiap orang kudus mendambakan kehidupan bahagia bersama Allah sambil berseru: “Kuduslah Allah yang Mahakuasa”.

(Fr. Yanto Kansil)

“Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang” (Why. 4: 8b)

Marilah berdoa:

Ya Allah, pantaslah Engkau dipuji semua ciptaan-Mu. Semoga semakin hari aku menjadi semakin kudus. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini