“Tegurlah Dia” : Renungan, Senin 12 November 2018

0
1726

Pw S. Yosafat, UskMrt (M)

Tit. 1:1-9; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk.17:1-6

Dalam kehidupan kita pasti pernah mendapat teguran dari orang tua, guru dan teman. Teguran yang berikan dapat berupa kritikan dan peringatan. Hal itu karena sikap, perkataan dan tingkahlaku kita yang kurang tepat. Namun semua itu dimaksudkan supaya kita berubah.

Pada hari ini Yesus mengajar kita menjadi orang beriman dan saudara yang peduli bagi sesama melalui teguran. Cinta kasih yang nyata adalah kepedulian dan kepedulian menjadi nyata melalui teguran. Menegur secara Kristiani adalah berani mengungkapkan kesalahan yang terjadi dan bersedia mengampuni dengan tulus.

Tantangan bagi semua orang beriman saat ini adalah melawan sikap cuek dan rasa bosan untuk mengasihi sesama. Kasih sebagai dasar kepedulian supaya sesama berubah dan berbuah haruslah melebihi ketidaksabaran manusiawi kita ketika ditolak, dimarahi, tidak dihiraukan bahkan dicacimaki setelah memberikan teguran. Ketika merasa bosan, lelah  dan muak patutlah bertanya kepada diri sendiri sudah berhasilkah kita menyelamatkan sesama dari keburukan. Dan sudahkah kita menyelamatkan diri dari dendam dengan mengampuni.

Yang perlu disadari adalah mengampuni mendahului sebuah teguran yang akan mendatangkan berbagai tanggapan yang sama sekali tidak kita harapkan. Dengan melihat sesama sebagai saudara dan sadar bahwa menegur dan mengampuni adalah konsekuensi sebagai orang beriman akan menjadikan kita murid Yesus zaman now. Teguran yang sehat dan membangun tak pernah menghakimi sesama tapi melihat diri terlebih dahulu dan menemukan kekurangannya.

Berkata secara dengan jujur dan terbuka membantu sesama menjadi orang yang lebih baik dan tidak buta akan jalan yang sedang dia jalani. Itulah yang menjadikan teguran kita tidak sia-sia melainkan berguna karena membawa orang lain ke jalan yang benar. Santo Paulus mengingatkan dalam suratnya kepada Titus, mereka yang selalu sikap bijak dan tahu diri adalah orang-orang yang sanggup menasehati semua saudaranya. Semangat sebagai sesama saudara harus selalu mendasari semua itu, sama seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata aku menyesal, engkau harus mengampuni dia” (Luk. 17:4). Sebab lebih baik menegur dengan tak henti-hentinya, daripada memberikan kasih yang tersembunyi.

(Fr. Oswaldus Mbawo)

“Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia menyesal ampunilah dia”   (Luk. 17:3b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, ajarlah aku mengampuni sesama yang berbuat dosa. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini