“Saling Membantu”: Renungan, Sabtu 17 November 2018

0
5824

Pw S. Elisabet dr Hungaria, Biarw (P)

3 Yoh. 5-8; Mzm. 112:1-2,3-4,5-6; Luk. 18:1-8

Sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang tak sempurna, manusia tentu tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Manusia hidup bersama dengan sesamanya dan saling membantu. Saling membantu merupakan tindakan kita memberi diri kepada orang lain, memberikan apa yang dibutuhkan dengan tulus hati tanpa meminta imbalan.

Hal ini pula yang sungguh dihayati dengan baik oleh Santa Elisabeth dari Hungaria. Ia adalah seorang janda kudus mendiang Pangeran Ludwig IV dari Turinggia. Setelah suaminya meninggal, ia menjadi anggota Ordo Ketiga Santo Fransiskus yang sangat aktif melayani orang-orang miskin dengan kekayaannya. Hal ini kemudian melahirkan kebencian dari keluarga kerajaan yang menuduh Elisabeth memboroskan harta kekayaan dan akhirnya ia pun diusir. Setelah 4 tahun kematiannya, ia sudah dinyatakan kudus dan ia diangkat menjadi pelindung karya-karya sosial.

Hal yang sama juga ditegaskan oleh Yesus dalam Injil. Melalui perumpamaan tentang hakim yang tidak benar, Yesus menegaskan bahwa Allah akan mendengarkan dan memberi pertolongan bagi yang berseru kepada-Nya. Allah tidak pernah mengulur-ulur waktu untuk menolong umat pilihan-Nya. Hakim yang tidak takut akan Allah pun memberikan belas kasih dan pertolongan kepada janda yang terus-menerus memohon kepadanya. Adakah Allah menolak kita yang terus bermohon kepada-Nya?

Yesus memberi teladan untuk selalu memberi pertolongan dan menaruh belas kasih kepada orang lain. Allah telah lebih dahulu mengasihi kita. Mengapa kita masih menolak untuk memberi pertolongan dan bantuan kepada sesama?

Surat rasul Yohanes mau menegaskan kembali bahwa kita wajib membantu sesama kita, kerena dengan membantu kita telah mengambil bagian dalam karya kebenaran. Kembangkanlah nilai penghargaan dan kepekaan dalam diri kita. Janganlah lambat dan bosan untuk membantu sesama. Allah tidak pernah bosan untuk membantu dan mendengarkan suara kita minta tolong kepada-Nya. Masihkah kita menutup telinga dan hati terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan?

(Fr. Everestus Leftungun)

“Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapat iman di bumi?” (Luk.18:8).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, doronglah kami untuk selalu membantu sesama kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini