Hari Biasa (H)
Why. 10:8-11; Mzm. 119:14,24,72,103,111,131; Luk. 19:45-48
Rumah adalah tempat kediaman tiap orang untuk berteduh. Dalam kehidupan, ada dua rumah yang menjadi tempat kediaman, yakni di dunia sekarang dan di surga kelak. Kehidupan di dunia ini merupakan peziarahan sementara menuju rumah yang mulia, yakni hidup bersama Allah. Hidup bersama Allah bisa kita rasakan sekarang lewat suatu tempat yang telah disediakan oleh Allah, yakni tempat doa. Karena tempat doa ini membuat manusia bersekutu secara intim dan hidup bersama-Nya sehingga bersifat kudus.
Dalam bacaan Injil, Yesus dengan tegas memperlakukan tempat doa semestinya. Sehingga orang-orang yang melihatnya memiliki simpati untuk menjaga tempat doa. Sebab rumah doa adalah tempat Allah bersemayam.
Yesus masuk ke dalam Bait Allah untuk bersemayam di dalamnya. Yesus mengusir semua pedagang, menandakan bahwa di dalam ada banyak orang yang tidak menghargai rumah-Nya. Orang-orang yang tidak menghargai-Nya adalah para imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka menjadikan diri mereka sebagai tuan atas rumah doa. Inilah sikap orang-orang yang berusaha untuk meniadakan Tuhan dalam hidup.
Orang yang berusaha meniadakan Tuhan dalam hidup akan diusir oleh Allah sendiri ke luar dari rumah-Nya. Yesus sendiri dengan tegas berkata: “Rumah-Ku adalah rumah doa”. Ungkapan Yesus ini, menegaskan bahwa rumah doa adalah tempat dimana Tuhan berdiam dan Sabda-Nya diwartakan kepada semua orang.
Kita adalah pelaku-pelaku yang menjadikan rumah Tuhan sebagai tempat doa. Semestinya kita bersikap dan bekerjasama mewujudkannya. Karena rumah Tuhan adalah kita semua yang bersekutu dengan Allah sebagai kesatuan orang-orang yang percaya kepada-Nya.
(Fr. Johanis Titirlolobi)
“Rumah–Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun”(Luk. 19:46)
Marilah berdoa:
Tuhan, jadikanlah aku sebagai pendoa yang bijaksana, sehingga aku bisa menjadikan Rumah-Mu sebagai tempat yang suci dan mulia. Amin.











