“Hidup adalah Persembahan”: Renungan, Minggu 11 November 2018

0
2778

Hari Minggu Biasa XXXII.

1Raj. 17 10-16; Mzm. 146: 7, 8-9a, 9bc-10; Ibr. 9: 24-26; Mrk. 12: 38-44.

Kesadaran untuk menuntut hak azasi  membentuk sebuah spirit hidup dan kecondongan anak-anak zaman now. Para aktivis sosial mengajari mereka untuk mengetahui dan berani menuntut hak-hak mereka. Demi hak mereka harus melaporkan orang tua dan guru kepada polisi dan menuntut mereka di pengadilan. Hasrat memburu hak membuat kesadaran akan hidup sebagai anugerah Tuhan lewat orang tua dan lewat semua pelaku moral lenyap. Iklim hidup seperti ini melemahkan kesadaran akan kewajiban azasi untuk berbakti. Orang-orang dewasa pun sibuk dengan hak-haknya dan harus dipaksa dengan sumpah pun diancam dengan hukum agar bersedia menjalankan kewajibannya.

Sabda Tuhan menyadarkan bahwa hidup manusia bermula dari kurban dan pemberian diri Allah. Tanpa kurban dan pemberian diri dari Allah dan orang tua tak seorang pun dapat ada dan hidup di dunia ini. Hanya melalui kurban dan persembahan diri, hidup dapat eksis, berkembang dan menghasilkan buah yang tak kunjung habis. Di tangan Tuhan hidup menjadi benar dan abadi. Dia senantiasa mengerjakan hal-hal besar dalam hidup mereka yang mempersembahkan hidupnya dalam tanganNya. Sekecil apapun nilai ekonomis sebuah pasrah diri di tangan Allah, menjadi benih perbuatan-perbuatan besar Allah. Olehnya hidup manusia kecil dapat berbuah melimpah.

Jika janda miskin di Sarfat menggantungkan hidupnya pada sedikit air, tepung dan minyak yang menjadi haknya, maka semuanya segera habis dan tamatlah riwayatnya. Dalam tangan Tuhan semua lebih dari cukup untuk memelihara hidupnya, bahkan dapat dibagi dengan nabi Elia. Iman ini dilihat oleh Tuhan Yesus  pada janda miskin yang memberi seluruh uangnya di peti derma sebagai penyerahan seluruh hidupnya di tangan Allah. Melalui kurban dan persembahan, manusia hidup dan bekerja bersama Allah yang lebih dahulu berkurban dan memberi hidupNya. Itulah teladan dari Allah bagi manusia agar hidupnya berbuah melimpah.

Sering manusia tergoda menggenggam tepung, minyak dan uang sebagai hak dan andalan hidupnya. Sebagai hak dalam genggaman tangan manusia hidup menjadi miskin dan fana. Namun menjadikan semuanya itu sebagai persembahan adalah sikap berpasrah diri dalam tangan Allah. Dengan beriman manusia mengurbankan hak-haknya dan menerima Allah untuk meraja, memelihara dan memberkati seluruh hidupnya. Kurban adalah dasar dan jalan untuk masuk Kerajaan Allah.

(P. Julius Salettia)

“Jangan takut, pulanglah dan buatlah seperti yang kaukatakan” (1 Raj 17:13).

Marilah berdoa:

Tuhan, berilah aku keberanian iman meletakkan seluruh hidupku dalam tangan-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini