Hari Biasa(H)
Tit. 2:1-8,11-14; Mzm. 37:3-4,18,23,27,29; Luk. 17:7-10
Gereja merupakan suatu persekutuan (communio) umat beriman, percaya pada Allah melalui Yesus Kristus dan dijiwai oleh Roh Kudus. Gereja juga merupakan suatu lembaga dengan suatu struktur yang khas, yakni hierarkis piramidal-institusional. Selain itu, suatu struktur yang tak kalah penting, tanpa mengesampingkan struktur hierarkis yang dimaksud sebelumnya, yakni struktur kepemimpinan. Hal ini menjadi penentu dalam upaya pengembangan iman dan semangat pelayanan dalam Gereja.
Aggiornamento merupakan suatu semangat yang ditunjukkan oleh Gereja dalam upaya membuka diri dan siap mengikuti perubahan-perubahan yang dialami dunia. Maka, Gereja yang membuka diri itu, kepemimpinannya bisa disama artikan juga dengan semangat pelayanan yang terbuka. Di dalamnya, ada rupa-rupa model kepemimpinan yang ditawarkan bagi pengembangan iman umat, seperti misalnya kepemimpinan otokrasi, konsultasi, partisipasi, dan demokrasi.
Namun, apakah hal-hal ini mesti dijadikan patokan agar kita dapat berkembang dalam hal iman? Dalam batasan tertentu, konsep tentang kepemimpinan dengan gaya itu dapat dikatakan terlalu kaku. Kaku dalam arti, tidak secara keseluruhan, orang bisa memahami dengan benar apa arti dari masing-masing kata itu, sehingga banyak orang pula yang serasa tak sanggup mewujudnyatakannya.
Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk berkaca dan melihat masa kini, sebagai suatu proses yang berkelanjutan demi mencapai misi Gereja yang melayani. Tugas utama dalam persekutuan hidup menggereja, yakni melayani Tuhan dan sesama dengan sepenuh hati. Sehingga, manusia sebagai citra Allah, mesti menunjukkan sikap layaknya Allah yang bertindak dan menyelenggarakan kebaikannya itu.
Tak jarang ditemui bahwa, ketika mengalami kesuksesan atau berada pada posisi di atas, orang engggan lagi untuk melihat ke bawah. Keegoisan membuatnya menjadi tinggi hati, bahkan dengan begitu cepat bisa membuatnya berpaling dari kebaikan serta kehendak Sang Ilahi.
Maka secara dialogis, Gereja mengajak setiap umat beriman untuk tetap setia pada apa yang dijalaninya dalam tugas kegembalaan gereja-Nya, tanpa harus memperhitungkan ukuran balasan yang diterima. Tugas kegembalaan Gereja itu dimaksudkan supaya kita yang menjalani tanggungjawab itu, tetap pada sikap yang khas dari Gereja sendiri, yakni mengutamakan hidup sosial (bahu-membahu, bantu-membantu), serta bertindak layaknya seorang hamba yang tak berguna dan hanya melakukan apa yang harus dilakukan.
(Fr. Michael Hart Terok)
“Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna” (Luk. 17:10b).
Marilah berdoa:
Allah Bapa di Surga, berilah kami semangat Putera-Mu yang sudi menjadi abdi dan senantiasa melayani dengan tulus hati. Amin.











