“Era Milenial”: Renungan, Jumat 16 November 2018

0
2343

Hari Biasa (H)

2Yoh. 4-9; Mzm. 119:1,2,10,11,17,18; Luk. 17:26-37

Di era milenial ini, pengaruh dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mengubah hidup kita. Dulu telepon genggam, televisi, dan kulkas merupakan barang-barang yang masuk dalam kategori ‘mewah’, yang dimiliki oleh orang tertentu saja. Namun sekarang barang-barang tersebut menjadi barang yang biasa, karena dapat ditemui pada orang golongan manapun.

Tidak dapat dipungkiri pula, di era ini anak-anak SD lebih tergiur akan permainan online dan begitu mengenal gadget, dibandingkan dengan anak-anak dulu. Dengan demikian, mereka begitu terikat pada apa yang dimilikinya. Untuk itu tantangan terbesar di era milenial ini, yakni keterikatan pada hal-hal duniawi. Hal duniawi dianggap merupakan prioritas hidup manusia agar ia dapat hidup dengan baik, aman, dan nyaman di dunia ini.

Yesus dalam bacaan Injil hari ini mengingatkan kita, “Barangsiapa memelihara nyawanya ia akan kehilangan nyawanya dan barangsiapa kehilangan nyawanya ia akan menyelamatkannya”. Yesus tidak bermaksud agar kita tidak cinta akan kehidupan kita, tapi sebaliknya Yesus mengajak kita untuk hidup tanpa pamrih dengan mencintai hidup kita, dengan berkorban dan berbuat kasih kepada sesama.

Peristiwa Sodom dan Gomora dalam Injil hari ini sangat jelas menceritakan kehidupan yang terlalu mencintai diri dan bangga akan hal-hal duniawi, yang membawa petaka dalam hidup sebagai pengikut Kristus. Untuk itu sebagai seorang Kristiani, kita mesti mengutamakan ajaran karitatif. Bacaan pertama sendiri sangat jelas menekankan hal itu. Perbuatan kasih merupakan tindakan utama sebagai pengikut Kristus. Akan tetapi, hal itu bisa terhalangi apabila kita masih berada dalam lingkaran duniawi, yang membuat kita nyaman. Lingkaran yang sebenarnya membawa kita pada zona kebinasaan.

Peristiwa seperti Bayu seorang penjaga Gereja di Yogyakarta yang tewas terkena ledakan bom Gereja adalah teladan sejati bagaimana kita hidup tanpa terikat pada hal-hal duniawi. Ia tanpa pamrih dan tanpa mementingkan dirinya rela berkorban bagi banyak orang. Ia memberikan cinta kasih yang tulus lewat pengorbanan kepada sesama dan terlebih kepada Allah.

 (Fr. Laurenzo Lolong)

“Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya” (Luk. 17:33).

Marilah berdoa:

Tuhan, jauhkanlah kami dari keterikatan pada hal-hal duniawi. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini