“Sikap Anak Allah”: Renungan, Selasa 23 Oktober 2018

0
2702

Hari Biasa (H).

Ef. 2:12-22; Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14; Luk. 12:35-38.

 

Bacaan-bacaan hari ini hendak menyadarkan kita akan jati diri dan tugas kita sebagai anak-anak Allah. Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, menegaskan bahwa kita telah dipersatukan di dalam Kristus lewat perisitiwa salib. Kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah dan kita merupakan anggota keluarga Allah sendiri. Ketika kita diangkat menjadi anak-anak Allah maka Allah adalah Bapa kita. Sebagai anak-anak Allah kita memiliki tugas yaitu melaksanakan kehendak Bapa. Konsekuensi melaksanakan kehendak-Nya, kita pun disebut anak-anak terang. Maka kita terikat secara intim dengan Allah Bapa.

Penginjil Lukas dalam bacaan Injil menegaskan: “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.” Secara eksplisit penegasan ini menunjuk pada dua sikap, yakni pengorbanan dan komitmen dalam tugas sebagai anak-anak Allah. Dalam menjalani kehidupan ini, sebagai anak-anak Allah kita memiliki tugas melaksanakan kehendak Bapa. Melaksanakan kehendak Bapa dengan berbuat baik dan mengajarkan kebenaranNya kepada semua orang yang kita jumpai.

Namun dalam menjalani kehidupan di dunia ini kita tidak terlepas dari beragam tantangan dan rintangan, cobaan dan godaan yang selalu menghampiri perjalanan hidup. Maka kesadaran kita sebagai anak-anak Allah, memampukan kita berani berkorban dan berkomitmen dalam berbuat baik dan mewartakan kebenaran-Nya.

Maka kita memperoleh kebahagian dari Bapa: “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilahkan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka… Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dini hari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka.” Hal berjaga-jaga di sini bukan berarti berdiri dan mengawasi lingkungan di sekitar, melainkan kita melakukan kehendak Bapa dengan berbuat baik dan mewartakan kebenaran-Nya.

Apakah kita yang sudah dipersatukan dengan Allah dan diangkat menjadi anak-anak-Nya berani berkorban dalam melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya? Apakah kita memiliki komitmen yang teguh pada terang kebenaran-Nya?  Bila kita sadar akan jati diri kita sebagai anak-anak Allah maka kita pun berani berkorban dan berkomitmen menjadi pelita-pelita kebenaran untuk menerangi jalan menuju Bapa.

(Fr. Leo Sonny Songbes)

 

“Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala” (Luk. 12:35).

 

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikan aku pelita kebenaran-Mu. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini