“Merintis Jalan ke Surga”: Renungan, Minggu 14 Oktober 2018

0
2030

Hari Minggu Biasa XXVIII (H)

Keb.7:7-11; Mzm. 90:12-13,14-15,16-17; Ibr. 4:12-13; Mrk. 10:17-30 (Mrk. 10:17-27).

Sabda Tuhan tentang Kerajaan Allah pasti sangat memikat kita semua. Kita orang Kristiani berkeyakinan bahwa ke sanalah tujuan kehidupan kita. Namun ternyata sabda Tuhan pada hari ini justru menantang kerinduan kita akan Kerajaan tersebut.

Menurut Injil, hal masuk Kerajaan Allah atau memperoleh harta di surga, dikaitkan dengan sikap lepas bebas, tidak terlekat pada harta milik tetapi rela dan mau berbagi harta milik atau kekayaan. Orang yang rela berbagi harta milik kepada orang-orang miskin adalah mereka yang merintis jalan ke surga. Orang yang bertindak sebaliknya akan pergi menjauh dari Kerajaan Allah seperti yang dilakukan pemuda kaya dalam Injil.

Kita masing-masing, entah banyak atau sedikit, entah besar atau kecil, pasti mempunyai harta kekayaan. Wujudnya tidak selalu uang atau barang tetapi bisa berupa bakat, keterampilan, atau keutamaan tertentu. Apapun yang dianugerahkan Tuhan untuk menjadi milik kita, marilah kita syukuri.

Menurut kitab kebijaksanaan, Salomo lebih merindukan untuk mendapatkan kebijaksanaan daripada kekayaan. Ia memahami kebijaksanaan lebih berharga dari segala hal lain. Kalau kita berani seperti Salomo, mengutamakan kebijaksanaan hidup, pasti harta duniawi datang dengan sendirinya.

Kebijaksanaan hidup seperti ini, kalau diterapkan dalam hidup sehari-hari, akan membuat kita lebih mudah bersyukur atas apa pun yang diberikan Tuhan kepada kita, entah banyak entah sedikit. Dengan demikian, kita semakin mudah dan rela berbagi apa yang kita miliki kepada orang-orang yang membutuhkan.

Surat kepada orang Ibrani menegaskan bahwa Firman Tuhan itu hidup dan kuat, sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dengan kata lain, Firman Tuhan adalah sumber kebijaksanaan yang harus kita cintai.

Sikap bijaksana inilah yang dituntut oleh Yesus dan merupakan syarat untuk masuk Kerajaan Allah dan mendapatkan harta di surga.  Hal ini harus menjadi sikap dasar iman kita. Namun, itu saja tidak cukup. Pasrah dan mengandalkan Tuhan, tidak berarti kita hanya diam saja dan tidak berbuat apa-apa, tetapi kita harus aktif dan berusaha. Yesus meminta kita, “Pergilah, juallah apa yang kau miliki, dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin. Kemudian datanglah kemari dan ikutilah Aku”.

(Pst. Bayu Nuyartanto, Pr)

“Juallah harta milikmu dan datanglah kemari mengikuti Aku” (Mrk. 10:21)

Marilah berdoa:

Ya Allah, semoga kami semakin mencintai kebijaksanaan, semakin mewujudkannya dalam semangat berbagi satu dengan yang lain. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini