“Kepekaan Terhadap Situasi”: Renungan, Jumat 26 Oktober 2018

0
7885

Hari Biasa (H)

Ef. 4:1-6; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 12:54-59

             Kita merupakan ciptaan yang paling sempurna di antara ciptaan lainnya. Akal budi dan kehendak bebas merupakan ciri khas yang ada pada kita, sehingga dengan memiliki akal budi dan kehendak bebas kita mampu berpikir dan pandai membuat suatu kesimpulan. Sayangnya banyak orang hanya pandai berbicara dan berkomentar terhadap sesuatu yang dibuat oleh orang lain, yang sesungguhnya ia sendiri tidak sanggup lakukan.

Banyak orang pandai memberi komentar tentang sepak bola, tetapi tidak mampu menjadi pemain sepak bola yang unggul. Banyak orang berkomentar dalam dunia politik, namun tidak sanggup dalam berjuang dalam dunia politik. Kita lebih mudah berkomentar dan mengkritik sesuatu yang dikerjakan oleh orang lain daripada melakukannya sendiri. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh sikap angkuh kita, merasa lebih tahu dari orang lain. Semuanya dinilai dari sudut pandang kita.

Bacaan Injil yang telah kita dengarkan mengisahkan tentang Yesus yang sungguh kecewa terhadap orang-orang Farisi yang pandai dalam segala hal terlebih khusus pandai dalam membaca tanda-tanda alam. Akan tetapi mereka tidak mampu melihat pesan dan kehadiran Tuhan dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Mereka hanya pandai berkomentar dan mengkritik sesuatu yang pada dasarnya tidak mereka ketahui.

Hal itulah yang Yesus tidak inginkan dari mereka. Karena merasa memilki pegetahuan yang lebih baik, maka keegoisan mereka pun sangat tinggi. Akibatnya, mereka tidak mampu melihat kehadiran Allah dalam diri Yesus. Mereka selalu mengharapkan kedatangan Juru Selamat itu dalam peristiwa-peristiwa besar, tetapi mereka lupa bahwa kehadiran Allah selalu diidentikkan dengan orang-orang lemah, kecil dan sederhana. Begitu pun juga dengan kita yang hidup di zaman yang serba canggih. Kita sering  tenggelam dalam kesibukan mengurus diri dan lupa terhadap sesama. Kita menjadi orang yang egois, yang hanya pandai melihat diri sendiri.

Maka dari itu kerendahan hati sangat dibutuhkan dalam melihat tanda-tanda kehadiran Tuhan, yang sungguh nyata dalam hidup kita. Kerendahan hati justru membawa kesabaran bagi kita untuk mampu menilai zaman ini dan mampu menilai mana yang baik dan tidak baik. Terlebih kita butuh telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, dan hati untuk menyimak pesan di balik peristiwa-peristiwa yang ada. Sebab Tuhan hadir dalam alam ciptaan dan terlebih khusus dalam sesama.

(Fr. Rewilianus Paisu)

Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?”(Luk. 12:56).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah aku agar mampu menyimak pesan-mu di balik peristiwa dalam kehidupanku setiap hari. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini