“Iman yang Memperteguh”: Renungan, Jumat 12 Oktober 2018

0
2573

Hari Biasa (H)

Gal. 3:7-14; Mzm. 111:1-2,3-4,5-6; Luk. 11:15-26

Dalam realitas kehidupan setiap hari, seringkali kita menyaksikan bahkan  mengalami situasi perpecahan di tengah-tengah kehidupan. Perpecahan itu muncul karena tidak adanya kesatuan dan persatuan yang kokoh, serta kepercayaan antar sesama.

Ada pelbagai problem yang mengakibatkan kita saling menyalahkan sesama. Perpecahan yang sangat nampak dan terjadi di zaman sekarang ini yakni perpecahan dalam keluarga. Banyak keluarga muda yang mengalami perpecahan dalam perkawinan. Bukan hanya yang muda tetapi juga yang tua.

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus menuliskan suratnya kepada jemaat di Galatia yang berisikan tentang kebenaran oleh karena iman. Rasul Paulus mengajak jemaat di Galatia untuk tidak saling menyalahkan sesama, namun saling mempersatukan diri dalam kebenaran oleh karena iman. Karena mereka yang hidup dalam iman disebut sebagai anak-anak Abraham.

Lebih daripada itu, Allah telah menunjukkan cinta-Nya kepada kita melalui Kristus yang membebaskan kita dari segala kutukan atau dosa. Allah telah mengutus Putera-Nya turun ke dunia untuk menebus dosa-dosa kita, supaya di dalam Dia kita dapat memperoleh berkat dan juga berkat itu sampai kepada bangsa-bangsa di seluruh penjuru dunia.

Bacaan Injil hari ini menampilkan bagaimana orang banyak tidak percaya akan mujizat yang telah dilakukan Yesus dalam mengusir setan. Orang banyak yang hadir pada saat itu menjadi heran tetapi ada di antara mereka yang berkata bahwa Yesus mengusir setan dalam kuasa Beelzebul, penghulu setan.

Namun Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata ”Setiap kerajaan yang terpecah-pecah, pasti akan runtuh”. Perkataan Yesus mau menunjukkan bagaimana perpecahan bisa terjadi, karena tidak adanya kepercayaan atau tidak adanya iman yang dihidupi dalam kehidupan setiap hari.

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, suatu semboyan yang menggambarkan betapa pentingnya membangun persatuan dan kesatuan. Meskipun demikian itu bukanlah suatu perkara yang mudah atau gampang. Salah satu kesulitan yang mendasar yakni bagaimana kita membangun keharmonisan kesatuan dalam perbedaan. Perbedaan itu muncul karena kita sendirilah sebagai pelaku utama yang ingin dan suka membeda-bedakan diri dengan sesama.

Dengan adanya perbedaan, maka kita tidak saling mengenal, memahami dan menghargai sesama. Bacaan-bacaan hari ini mau mengajak kita, agar kita mampu membangun dan mempertahankan kesatuan di dalam kehidupan.

(Fr. Romario Rumlus)

“Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan” (Luk.11:23)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, kuatkanlah iman kami, supaya kami hambamu ini tidak terpisah dari-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini