Hari Biasa (H)
Ayb. 9:1-12,14-16; Mzm. 88: 10bc-11,12-13,14-15; Luk. 9: 57-62
Pada zaman sekarang, hal mengikuti Yesus adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi kita. Apalagi pilihan yang kita putuskan untuk mengikuti Yesus diperhadapkan dengan tuntutan dan tawaran dari dunia yang sangat menggiurkan. Adalah suatu kebajikan apabila hal-hal duniawi digunakan, misalnya melalui media sosial, demi kemuliaan Allah Bapa.
Mengikuti Yesus yang dimaksudkan di sini ialah menyerahkan diri dalam tuntunan Tuhan untuk menjadi pewarta-Nya, yang dalam hal ini ikut dalam pembinaan sebagai seorang calon imam, membentuk suatu keluarga dan hidup sebagai pengikut Kristus sejati. Tentu bukanlah suatu hal mudah dan tidak membutuhkan perjuangan. Menjadi pengikut Yesus berarti berjuang terus menerus. Apalagi berhadapan dengan perkembangan dan perubahan dunia yang semakin menjadi-jadi.
Sabda Tuhan memperlihatkan bahwa mengikuti Yesus selalu memiliki konsekuensi. Dan Yesus ingin mengingatkan kepada kita akan konsekuensi menjadi pengikut-Nya. Yesus ingin agar kita sadar akan pilihan dan keputusan menjadi pengikut-Nya. Hal ini berarti tidak ada motif lain dalam sebuah pilihan untuk mengikuti Yesus. Tulus hati dan siap sedia adalah sikap dasar dalam sebuah pilihan untuk mengikuti Yesus secara konsekuen.
Sebaliknya, bila tidak menerima konsekuensi yang ada, maka kita dinyatakan belum siap. Orang mesti siap dengan tulus hati untuk menjadi pengikut Tuhan. Itu adalah tuntutan pertama sebelum menjadi pengikut Yesus.
Tuntutan kedua untuk menjadi pengikut Kristus adalah memiliki sikap rendah hati. Sikap rendah hati itu ditunjukkan dalam pelayanan kita. Menjadi pengikut Kristus pertama-tama bukanlah untuk mencari jabatan atau pun menunjukkan kekuasaan, melainkan menjadi pengikut Kristus haruslah menjadi pelayan dari semua orang. Servus servorum Dei (hamba dari para hamba Allah) merupakan kata yang tepat untuk itu. Kerendahan hati melandasi semua itu. Melayani dengan sepenuh hati, tulus, rela berkorban dan siap mewartakan harus menjadi motivasi seorang pengikut Kristus.
Mewartakan bukan semata-mata harus berdiri di depan gereja-gereja dan mulai menerangkan isi Kitab Suci kepada orang-orang. Seorang pengikut Kristus yang sejati mewartakan karya Allah dengan tindakan terhadap sesamanya. Pewartaan dan tindakan diintegrasikan dalam dirinya sebagai seorang pengikut Yesus. Pengikut Kristus menjadi tanda kehadiran Yesus bagi orang lain melalui pewartaan dan tindakannya.
(Fr. Andris Yosua Sumigar)
“Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah”(Luk. 9:62).
Marilah berdoa:
Ya Allah, kuatkan aku di saat dunia semakin menawarkan kenikmatannya dan menggoda aku untuk mundur. Amin











