“Harta Yang Benar”: Renungan, Senin 22 Oktober 2018

0
2292

Hari Biasa (H). Pfak. St. Yohanes Paulus II, Paus (P).

BcE Ef. 2:1-10; Mzm. 100:2,3,4,5; Luk. 12: 13-21.

Harta adalah sesuatu yang ingin dimiliki oleh manusia. Dengan harta, manusia dapat memperoleh kepuasaan diri. Kepuasan membuat keberadaannya menjadi berbeda dengan orang lain. Manusia senantiasa bekerja keras untuk memperoleh harta. Bekerja keras pun bisa  dilalui dengan cara yang baik atau yang tidak baik. Tanpa harta, ia merasa bahwa hidupnya akan selalu diselimuti kekuatiran.

Injil hari ini menceritakan tentang orang kaya yang bodoh. Ia menjadi bodoh karena mengumpulkan harta bagi dirinya. Ia berpikir bahwa harta yang dimilikinya akan memberikan kebahagiaan yang tak dapat diberikan oleh orang lain. Harta itu menjadi alasan terbesarnya untuk beristirahat dan mengonsumsi sendiri. Harta itu tidak perlu dibagikan kepada saudaranya tetapi hanya menyimpannya.

Orang kaya yang bodoh itu lupa akan satu hal, yakni dari mana harta itu berasal. Ia berpikir bahwa harta itu diperoleh lewat usahanya sendiri. Tetapi ia lupa bahwa harta itu berasal dan diambil dari alam ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan untuk seluruh manusia. Seharusnya ia tidak egois untuk menyimpan dan menggunakannya sendiri.

Ia menyangka bahwa dengan harta ia dapat mengontrol hidupnya. Ia bisa melewati segala tantangan hidup dan menganggap diri kaya. Padahal ia adalah orang yang miskin di hadapan Allah. Allah tidak menjadikan harta duniawi sebagai pengukur kekayaan manusia. Juga tidak menentukan masuk tidaknya seseorang ke surga. Melainkan hanya membawa ketamakan bagi hidupnya.

Walaupun ia kaya tetapi miskin di hadapan Allah. Orang yang kaya di hadapan Allah adalah mereka yang jiwanya dipenuhi dengan Roh Kudus. Hal itu bertolak belakang dari orang kaya yang bodoh. Ia mengatakan kepada jiwanya untuk beristirahat dan menikmati semua harta itu. Jiwanya tidak diarahkan pada kepekaan akan keberadaan orang lain yang membutuhkan pertolongannya. Jiwa orang bodoh itu ditutupi dengan hasrat yang buruk. Sehingga ia tidak lagi memiliki kepekaan akan orang lain.

Banyak orang ingin menjadi kaya. Ada pilihan seperti orang kaya yang bodoh atau orang kaya yang bijaksana. Orang kaya yang bijaksana mempunyai kepekaan besar. Ia tahu bahwa apa yang dimiliki merupakan pemberian dari Allah. Sehingga ia membagikan kepada orang yang membutuhkan. Sudahkah kita menjadi bijaksana?

(Fr. Fiki Panggola)

 “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung dari kekayaannya itu” (Luk. 12:15).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, buatlah kami bijaksana dalam mengolah harta kami. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini