“Cara Hidup yang Baik”: Renungan, Rabu 17 Oktober 2018

0
3139

 Pw S. Ignasius dr Antiokhia, UskMrt (M)

Gal. 5:18-25; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 11:42-46

Hari ini bersama Gereja universal kita memeringati St. Ignasius dari Antiokhia, seorang uskup dan martir yang hidup sekitar tahun 35-107 Masehi. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai pribadi yang saleh dan bijaksana. Ia dikenal pula sebagai yang pertama dalam literatur Kristen yang menyematkan kepada Gereja kata sifat “Katolik”, yaitu “universal”. Dalam suratnya kepada umat di Smirna (8:2), ia menulis “… Quaemadmodum utique ubi est Christus Iesus, illic Catholica Ecclesia” (Di mana ada Yesus Kristus, di situ ada Gereja Katolik).

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang kecaman Yesus terhadap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Yesus mengkritik perbuatan dan tindakan mereka yang cenderung terarah pada hal-hal yang bersifat duniawi. Sehingga mereka mengabaikan perbuatan dan tindakan yang sesuai dengan kasih Allah.

Bacaan pertama bercerita tentang rasul Paulus yang menunjukkan kepada kita bahwa perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan kasih Allah ialah perbuatan-perbuatan yang dipimpin oleh Roh. Perbuatan-perbuatan yang dipimpin oleh Roh terarah pada perbuatan-perbuatan yang ditandai dengan: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Perbuatan-perbuatan yang dipimpin oleh Roh dapat menuntun kita menjadi pribadi yang saleh, pribadi yang hidup sesuai dengan kasih Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang ditemukan banyak orang yang cenderung bertindak sesuai dengan keinginannya. Banyak orang menganggap bahwa suatu tindakan yang menyenangkan atau memuaskan pribadinya merupakan tindakan yang baik. Padahal belum tentu perbuatan demikian tergolong sebagai perbuatan yang baik. Malahan bisa jadi perbuatan yang sesuai dengan keinginan itu bertentangan dengan kehendak Allah.

Bacaan hari ini menunjukkan pada kita bahwa hidup yang baik bukanlah hidup yang dijalani sesuai dengan keinginan kita; melainkan hidup yang dipimpin oleh Roh, yakni hidup dalam kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Lebih dari itu, teladan Yesus Kristus menjadi dasar bagi kita untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah.  Sehingga kelak kita bisa menikmati kebahagiaan kekal seperti St. Ignatius dan para kudus lainnya dalam Kerajaan Surga.

(Fr. Frans Labia)

“Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Gal. 5:25).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga aku senantiasa hidup seturut dengan hukum-Mu. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini