Hari Biasa (H)
Ef. 4:7-16; Mzm. 122:1-2,3-4a, 4b-5; Luk. 13:1-9
Apakah sebenarnya pertobatan yang sejati itu? Apakah yang menjadi makna dan tujuan dari pertobatan? Mengapa manusia berdosa itu perlu untuk bertobat? Berbagai pertanyaan sesungguhnya dapat kita kemukakan berkaitan dengan pertobatan tersebut.
Merenungkan hal itu, kita pun dapat melihat riwayat Santo Frumensius yang diperingati oleh Gereja Katolik pada hari ini. Kisah kehadirannya yang tidak terduga dan pada awalnya kurang menguntungkan, berubah menjadi suatu peristiwa iman yang patut disyukuri. Tumbuhnya pertobatan dari masyarakat di Ethopia sebagai buah dari iman hingga berdirinya sebuah kapela di sana merupakan suatu bukti nyata peristiwa iman tersebut.
Sesungguhnya pertobatan itu menjadi suatu langkah bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Seperti dalam bacaan Injil, begitu jelas diungkapkan bahwa keselamatan dari Allah hanya ditujukan kepada mereka yang mau bertobat, sehingga perlu ada suatu kesungguhan akan pertobatan. Akan tetapi berkaitan dengan semua itu, saya menemukan dua hal penting mengenai pertobatan.
Pertama, seperti dalam perumpamaan tentang “Pohon Ara yang Tidak Berbuah” pada bacaan Injil. Pertobatan manusia tidak hanya sampai pengakuannya saja melainkan harus dapat berbuah. Suatu pertobatan yang berbuah menuntut suatu keberlanjutan dan perkembangan iman dari setiap orang.
Kedua, buah dari pertobatan tentu terus diwujudkan tak hanya dalam diri kita sendiri melainkan juga dengan orang lain di sekitar kita. Menjadi sarana Tuhan untuk melayani setiap orang seperti layaknya “rasul-rasul, nabi-nabi, pewarta injil, gembala umat maupun pengajar”, seperti yang ditekankan dalam bacaan pertama agar pula mencapai kesatuan dalam iman.
Memaknai suatu pertobatan tak hanya melalui ungkapan kata-kata saja. Perlu ada suatu tindakan nyata mengenai perubahan sikap dan pola hidup, seperti kesungguhan dalam hidup doa maupun membentuk relasi yang baik dengan sesama. Hal itu sungguh suatu langkah yang baik bagi kita sebagai pewarta sabda Allah.
Mewartakan sabda Allah pun tak hanya melalui kata-kata saja melainkan pula melalui sikap hidup kita sehari-hari. Demikian, kita dapat menjadi contoh yang baik bagi semua orang. Inilah buah-buah pertobatan yang dapat dihidupi oleh kita semua sebagai umat beriman.
(Fr. Valentino Wullur)
“Marilah kita hidup dengan sopan seperti pada siang hari … kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah rawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Rm. 13:13-14).
Marilah berdoa:
Tuhan, ubahlah hidupku dan bimbinglah daku agar dapat berada di jalan yang benar agar dapat menjadi hamba yang setia bagi Engkau dan sesama.











