“Sentuhan Personal”: Renungan, Minggu 9 September 2018

0
1893

Hari Minggu Biasa XXIII (H)

Yes. 35:4-7a; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; Yak. 2:1-5; Mrk. 7:31-37

Saat mengalami penderitaan atau kemalangan, saat itulah sukacita dan semangat kita mulai memudar. Dan terkadang, kita berpasrah seolah tak ada lagi sebuah harapan akan keberhasilan dari  usaha kita. Tetapi kita bersyukur karena kemalangan itu terkadang pula meneguhkan kita. Karena sebagai manusia sosial, didukung dan mendukung bagi perkembangan diri selalu menjadi cara istimewa manusia untuk kuat dalam pengharapan akan adanya perubahan dan malahan kesuksesan.

Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk melihat kemalangan orang lain bukan sebagai pemisah relasi kita dengan mereka. Akan tetapi kita diajak untuk berusaha ada bagi mereka dalam suka dan duka. Agar supaya, kita tidak seperti orang Edom yang dimusnahkan Allah karena mereka menyatakan permusuhan terhadap orang Yehuda, setelah menyadari kemalangan yang menimpa kaum Yehuda. Bahkan, Nabi Yesaya menulis, bahwa tindakan demikian adalah gambaran dosa yang akan dimusnahkan oleh Allah sendiri. Itulah mengapa, betapa pentingnya kita turut bersimpati dan berempati dengan orang yang mengalami kemalangan.

Dalam suratnya, Yakobus juga menegaskan penting untuk tidak ada pembedaan relasi antara yang kaya dan yang malang (miskin). Karena yang miskin atau malang secara duniawi,  mungkin saja mereka kaya secara rohani. Dan bagi Allah, mereka itulah pemilik kekayaan sejati, yakni iman akan Kristus.

Sebab setiap hari mereka merenungkan, mencari, dan memohon belas kasih Allah. Dan penegasan Yakobus mengingatkan kita akan betapa pentingnya kedekatan dengan Yesus Kristus. Hal ini sendiri ditegaskan oleh Yesus dalam Injil bahwa kedekatan dengan Dia akan selalu memberi harapan bagi sebuah kebaikan dan sukacita.

Sebab pengalaman orang tuli yang malang itu dipakai Yesus untuk menegaskan bahwa dekat dengan Dia, kita akan mendapat kesembuhan dan sukacita. Karena kita akan merasakan sentuhan kasih-Nya yang memberi harapan. Maka sikap terpenting adalah berusaha mencari dan menemukan relasi personal dengan Yesus. Supaya kita selalu memiliki harapan akan kebahagiaan sejati. Oleh sebab itu, ungakapan Yesus, “terbukalah”, mau mempertegas sebuah tanda sukacita besar bagi orang yang terus-menerus mencari Dia dan menyentuh relasi personal dengan-Nya.

Karena cara pendekatan inilah, Yesus menjawab dan memberi harapan nyata bagi orang yang mencari Dia. Bahkan yang lebih penting adalah, hubungan personal dengan Tuhan akan menghantar kita menemukan harapan baru. Kita akan disadarkan bahwa di balik kemalangan ada sukacita, karena sentuhan kasih Yesus sungguh luar biasa.

(Fr. Edo Salilo)

“Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (Mrk. 7:37).

Marilah berdoa:

Ya Yesus, kami berharap pada-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini