“Pertanyaan yang Menyadarkan”: Renungan, Jumat 7 September 2018

0
2621

Hari Biasa (H)

1Kor. 4:1-5; Mzm. 37:3-4,5-6,27-28,39-40; Luk. 5: 33-39

“Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu ada bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Ungkapan Injil di atas hendak menunjukkan suatu hal penting, yakni arti puasa. Bacaan Injil hari ini mengisahkan para murid Yesus yang tidak berpuasa sementara para murid Yohanes dan orang Farisi berpuasa. Hal ini menjadi titik tolak hadirnya suatu masalah bagi orang Farisi sendiri. Mereka mempertanyakan para murid Yesus yang tidak berpuasa. Karena bagi mereka, puasa merupakan hal penting. Akan tetapi, Yesus menjawab pertanyaan mereka dengan ungkapan di atas.

Jawaban Yesus yang demikian menunjukkan kepada kita beberapa hal penting tentang arti puasa. Pertama, Yesus adalah tuan atas puasa. Hal ini mesti terlebih dahulu jelas untuk mengerti pernyataan di atas. Karena menjadi tuan atas hari puasa, maka Ia dapat memberikan sebuah perintah untuk berpuasa pada hari yang lain. Yesus ada bersama para murid dan hal itu mengungkapkan bahwa para murid mesti bersukacita bersama dengan Yesus sendiri. Bagaimana mungkin para murid berpuasa sementara Yesus hadir bersama dengan mereka. Jika demikian maka yang ada adalah suatu kontradiksi.

Kedua, puasa dapat dilaksanakan pada hari lain sesudah mempelai itu diambil dari mereka. Hal ini mengajarkan bahwa puasa dilaksanakan ketika mempelai itu tidak ada bersama dengan mereka. Mempelai itu sendiri adalah Yesus yang menjadi tuan atas hari puasa. Yesus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Oleh karena itu, sumber atau kehadiran hari puasa berasal dari dia.

Di zaman sekarang puasa menjadi suatu tantangan besar dalam kehidupan iman kita. Terkadang kita lebih cenderung tertarik akan hal-hal yang menarik dan membawa kesenangan daripada hal-hal yang memberatkan. Dalam situasi demikian, pertanyaan orang Farisi dalam sabda Tuhan hari ini mengajarkan kita untuk selalu ingat akan hari puasa. Dengan puasa, kita semakin mendekatkan diri pada Tuhan.

Sementara itu, jawaban Tuhan Yesus hari ini mengajarkan satu hal penting yakni, ketetapan hari puasa tidak dapat bersifat mutlak. Artinya bahwa hari puasa tetap ada, tetapi tidak tergantung mutlak pada hari yang ditentukan.  Setiap orang dapat menjalankan hari puasa pada waktu lain ketika berada dalam situasi yang tidak sesuai. Karena apa yang menggerakkan orang untuk berpuasa juga amatlah penting.

(Fr. Amatus Watkaat)

“Akan datang waktunya” (Luk. 5:35).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah puasa sebagai bagian dalam hidup keberimananku. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini