“Mengikuti-Mu Menyembuhkanku”: Renungan, Jumat 21 September 2018

0
3156

Pesta S. Matius, RasPenInj (M).

Ef. 4:1-7,11-13; Mzm. 19:23,4-5; Mat. 9:9-13.

Manusia cenderung membentuk suatu struktur kepengurusan berdasarkan orang-orang yang dipilih karena memiliki kemampuan, keterampilan atau pun pengalaman dengan perilaku moral yang baik. Orang-orang terpilih ini dianggap memiliki jaminan sekaligus ‘nilai jual’ bagi masyarakat. Oleh sebab itu mereka sangat direkomendasikan menjadi bagian dari suatu kepengurusan dalam masyarakat.

Kecenderungan manusiawi inilah yang kerap kita temui dewasa ini, sebab tanpa adanya latar belakang yang baik orang sulit untuk dipercaya, terlebih untuk memegang suatu jabatan yang berpengaruh dalam masyarakat.

Berbeda dengan manusia pada umumnya, Yesus justru hadir sebagai pribadi yang berlawanan dengan kecenderungan tersebut. Matius memiliki latar belakang yang buruk di kalangan masyarakat. Ia adalah seorang pemungut cukai, sebuah pekerjaan yang dipandang berdosa. Tetapi Matius justru dipilih dan dijadikan Yesus sebagai salah seorang Rasul-Nya.

Tentu saja bukan catatan buruk yang hendak diangkat oleh Yesus dalam pribadi Matius, melainkan kemungkinan pertobatan yang tulus dalam diri Matius. Yesus melihat kehendak dan kemauan Matius untuk mengikuti-Nya, dengan kesungguhannya untuk meninggalkan segalanya termasuk cara hidup yang lama dan memilih mengikuti Yesus. Kesungguhan Matius tampak pada tindakannya, yaitu berdiri dan mengikuti Yesus.

Jelaslah bahwa Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan, merangkul, dan mengajak orang berdosa kembali kepada kasih Allah yang penuh. Yesus hadir sebagai tabib yang mencari orang sakit dan menyembuhkannya.

Peristiwa ketika Yesus makan bersama dengan para pemungut cukai di rumah Matius yang juga seorang pemungut cukai, ditentang oleh Kaum Farisi. Mereka tidak dapat menerima Yesus makan dengan para pemungut cukai yang mereka anggap sebagai orang-orang berdosa.

Dalam hidup, kita sering menempatkan diri seperti kaum Farisi. Kita menilai orang lain pantas atau tidak diterima dalam keanggotaan Gereja, dan menempatkan diri pada ‘posisi’ yang lebih tinggi.

Padahal jika kita mau menempatkan diri kita sebagai anak Allah yang didatangi, yang disembuhkan, dan yang dikasihi Allah, maka pasti kita akan selalu berdoa dan bersyukur, serta menerima semua orang apa adanya. Kita sendiri tidak pantas tapi Allah memantaskan kita.

(Fr. Thimoti Tappi)

Maka Berdirilah Matius lalu mengikut Dia” (Mat. 9:9b).

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, terimakasih karena Engkau datang untuk menebusku. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini