“Manis di Bibir”: Renungan, Minggu 2 September 2018

0
3453

Hari Minggu Biasa XXII (H)

Ul. 4:1-2,6-8; Mzm. 15:23a,3cd-4ab,5; Yak. 1:17-18,21b-22,27; Mrk. 7:1-8,14-15,21-23

Ada ungkapan yang mengatakan, “Verba docent exempla trahunt”. Artinya, “kata-kata mengajar, teladan meyakinkan”. Ungkapan ini hendak menegaskan bahwa dalam hidup ini kita perlu memberikan teladan yang baik dan bukan hanya pandai berkata-kata atau manis di bibir saja. Sebab teladan itulah yang dapat meyakinkan orang.

Akan sangat memalukan apabila ada orang yang hanya pandai berkata-kata saja, tetapi tidak melakukan apa yang dikatakannya itu. Orang semacam itu pasti akan sulit dipercayai dan bahkan dapat dikucilkan dari lingkungannya.

Injil hari ini berkisah tentang Yesus yang mengecam tindakan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mengapa? Karena mereka terlalu berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka, tetapi mengabaikan perintah Allah. Mereka sering menganggap diri paling benar dan dengan mudah menilai atau menyalahkan orang lain yang tidak taat pada adat istiadat.

Terhadap tindakan mereka itu Yesus memberi kecaman dengan mengungkapkan apa yang dinubuatkan Yesaya, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia”.

Dengan demikian, jelaslah bahwa sesungguhnya yang salah dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat ialah tindakan mereka yang mengabaikan perintah Allah demi taat pada perintah manusia. Di sinilah letak kekeliruan mereka. Mereka tidak menyadari bahwa perintah Allah jauh lebih tinggi daripada perintah manusia. Menaati adat istiadat nenek moyang memang merupakan suatu sikap yang baik, tetapi tindakan yang jauh lebih terpuji dan mulia jika kita taat pada perintah Allah.

Itulah sebabnya Yesus menegaskan, “Apapun dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya. Sebab dari dalam, dari hati orang timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang”.

Melalui perkataan-Nya ini Yesus menghendaki agar kita senantiasa menjaga kualitas hati kita. Hati yang selalu terarah kepada Allah, bukan kepada hal-hal duniawi semata. Percuma jika kita hanya pandai berkata-kata saja, tetapi tidak ada tindakan nyata. Sia-sialah orang yang memuji Tuhan dengan bibirnya, tetapi hatinya jauh dari-Nya.

Untuk itu, jagalah kualitas hati kita agar selalu terarah pada hati Allah yang penuh kasih. Hati yang dipenuhi kasih Allah akan menghasilkan perbuatan-perbuatan baik. Itu artinya, tindakan yang baik muncul dari kualitas hati yang baik. Jadi, jangan hanya manis di bibir saja, tetapi tunjukkanlah kualitas hatimu melalui perbuatan baik.

(Fr. Wayan Sugiarta)

“Apapun dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” (Mrk. 7:15)

Marilah berdoa:

Ya Allah, semoga hatiku selalu terarah pada hati-Mu yang penuh kasih. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini