“Keagungan Kebahagiaan”: Renungan, Rabu 12 September 2018

0
1963

Hari Biasa (H)

1Kor. 7:25-31; Mzm. 45:11-12, 14-15, 16-17; Luk 6:20-26.

Setiap pribadi memiliki pilihan untuk menjalani hidupnya. Pilihan itu senantiasa merupakan bagian terpenting yang memberikan konsekuensi bagi orang yang mengambil keputusan itu. Kesadaran akan pilihan nampak dalam penerimaan konsekuensi oleh pribadi yang bersangkutan.

Seseorang yang memiliki kewajiban pasti juga memiliki hak. Misalnya masyarakat yang berkewajiban mengikuti aturan negaranya memperoleh hak untuk diperlakukan baik oleh pemerintah. Pilihan seseorang tentunya mengarah pada apa yang baik bagi dirinya, yang kita sebut sebagai kebahagiaan. Pertanyaannya, pilihan seperti apakah yang perlu bagi seseorang dan kebahagiaan apa yang akan diperolehnya?

Bacaan-bacaan hari ini menawarkan kepada kita pilihan yang tepat yang perlu kita pakai dan kebahagiaan sebenarnya yang dapat kita peroleh. Dalam bacaan pertama, rasul Paulus dengan rahmat yang telah diterimanya dari Tuhan memberitahukan pendapatnya kepada kita. Demikian pendapatnya, yakni “Dunia seperti yang kita kenal akan berlalu. Oleh karenanya, orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi hendaklah seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya”.

Pernyataan ini merupakan ajakan untuk tidak terikat pada hal-hal yang bersifat duniawi. Semua hal yang bersifat duniawi dinikmati hanya ketika orang berada di dunia ini. Kebaikan dan kebahagiaan dialami orang di dunia ini hanyalah sekali dalam hidup. Untuk itu, rasul Paulus mengajak kita sekalian untuk tidak terikat pada hal duniawi karena semuanya akan dan pasti berlalu.

Dalam bacaan Injil, Yesus menyampaikan ucapan bahagia dan peringatan kepada para murid-Nya. Demikian ucapan bahagia-Nya: “Berbahagialah hai kamu yang miskin karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah, kamu yang lapar akan dipuaskan, kamu yang sekarang ini menangis akan tertawa dan bersukacitalah serta bergembiralah sebab sesungguhnya upahmu besar di surga”. Adapun peringatan yang disampaikan Yesus demikian: “Celakalah hai kamu yang kaya karena kamu telah memperoleh penghiburan. Celakalah kamu yang sekarang ini kenyang karena kamu akan lapar, kamu yang sekarang ini tertawa akan berdukacita dan menangis. Celakalah kalian, jika semua orang memuji kalian”.

Dambaan dan tujuan hidup kita manusia ialah mengalami kebahagiaan. Namun terkadang kita beranggapan bahwa hidup bahagia itu didapatkan ketika kita memiliki kekayaan yang berlimpah, popularitas atau pun kedudukan sosial yang disanjung oleh sekian banyak orang. Kita beranggapan pula bahwa kebahagiaan itu terletak pada kenikmatan atau kemewahan duniawi. Kekayaan, kedudukan, dan kenikmatan merupakan sebagian dari banyak hal yang sering dijadikan ukuran kebahagiaan manusia.

Melalui terang Sabda Kristus, kita diajak untuk melihat kebahagiaan kristiani, yakni menjalani kewajiban di dunia ini dalam keadaan, “lapar”, “miskin”, “menangis” dan “dibenci” karena Anak manusia. Nanti pada saatnya kita akan dipuaskan lewat kemuliaan bersama Allah.

(Fr. Kenny Niunifaat)

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk. 6:20)

Marilah berdoa:

Ya Allah, hantarlah aku kepada kebahagiaan sejati. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini