“Allah Itu Adil”: Renungan, Minggu 30 September 2018

0
2680

Minggu Biasa XXVI (H)

Bil. 11:25-29; Mzm. 19:8,10,12-13,14; Yak. 5:1-6; Mrk. 9:38-43,45,47-48

Hakim merupakan orang yang memutuskan apakah orang ini bersalah atau tidak bersalah. Keputusan yang ia berikan, haruslah keputusan yang benar-benar adil. Keputusan tersebut sudah ditimbang dengan berbagai faktor atau variabel yang adil. Seorang hakim harus mempunyai kebijaksanaan, supaya ia bisa memberikan keputusan yang adil bagi banyak orang.

Bacaan Injil hari ini menceriterakan dua perikop sekaligus. Pertama, Injil mengisahkan seorang yang bukan murid Yesus mengusir setan. Kedua, siapa yang menyesatkan orang, tentang garam. Kedua perikop ini mau mewartakan bahwa Allah itu adalah Allah yang adil.

Perikop pertama mengisahkan bahwa Yesus melarang para murid-Nya untuk mencegah orang yang mengusir setan demi namaNya. Yesus berkata: “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mukjizat demi namaKu, dapat seketika itu juga mengumpat Aku”.

Hal yang mau ditekankan oleh Yesus adalah kepercayaan. Orang yang percaya akan Allah, pasti mampu melawan kuasa kegelapan dan akan memperoleh keselamatan. Hal ini bisa terjadi, karena Allah melihat semuanya dan Allah itu adil.

Perikop kedua mengisahkan, “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut… jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka…”. Hal ini hendak menekankan soal Allah yang adil. Perkataan-perkataan yang keras mau menunjukkan bahwa Allah itu tahu semua hal di dunia ini.

Hakim yang adil pasti tahu hukuman apa yang tepat untuk seorang tersangka. Allah juga demikian, karena Dia Sang Hakim yang adil. Namun selain adil, Ia tahu semua apa yang kita perbuat. Semua kegiatan di dunia ini yang kita lakukan diketahui oleh Allah.

Allah yang adil selalu memberikan kesempatan kepada kita orang-orang percaya untuk melakukan perbuatan baik. Kebaikan yang kita taburkan di dunia ini akan menjadi buah di kemudian hari. Dengan kebaikan itu, kita akan mendapatkan kebaikan Allah yang adil. Untuk itu, sudahkah kita menaburkan kebaikan di dunia ini?

(Redaksi Lentera Jiwa)

“Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (Mrk. 9:40)

Marilah berdoa:

Tuhan yang adil, ampunilah kami orang-orang yang penuh dengan keraguan untuk menaburkan kebaikan di dunia ini. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini