Pw S. Monika (P)
Sir. 26:1-4,16-21; Mzm. 131:1,2,3; Luk. 7:11-17
Pada hari ini, kita umat Katolik merayakan peringatan Santa Monika. Tentu saja kita semua tahu bagaimana kisah hidup dari orang kudus ini. Ia merupakan pribadi yang selalu bertekun dalam doa dan mempercayakan semuanya pada penyelenggaraan Ilahi.
Dalam bacaan liturgi hari ini kita semua dihantar untuk bermenung dan sekaligus percaya bagaimana penyelenggaraan Ilahi dalam hidup kita. Kita harus saling membagi cinta itu, selayaknya suami istri yang memberikan kebahagiaan kepada satu sama lain. Demikian juga kita semua dipanggil untuk saling mengasihi.
Dalam dunia modern sekarang, hal seperti ini merupakan suatu tantangan bagi kita semua. Kita terkadang lebih disibukkan dengan aktivitas pribadi atau kelompok sehingga mengabaikan orang-orang yang ada di sekitar kita bahkan membuat kita memusuhi mereka.
Kerendahan hati dan saling mencintai ditegaskan dalam Mazmur hari ini. Raja Daud merendahkan dirinya di hadapan Tuhan Allah. Ia mengatakan bahwa ia tidak tinggi hati, tidak memandang dengan sombong. Dengan seruannya kepada Tuhan, maka kita dapat mengetahui bahwa ia sungguh-sungguh mencintai Tuhan. Cintanya yang besar kepada Tuhan inilah yang membuat ia sungguh dapat mencintai sesamanya.
Jika kita tidak dapat mencintai Tuhan sudah tentu kita tidak dapat lagi mencintai sesama kita. Namun yang menjadi pertanyaan, bagaimana agar kita dapat seperti Raja Daud dan Santa Monika? Kita juga diberikan petunjuk melalui ajaran dalam bacaan Injil.
Bacaan Injil mengisahkan bagaimana Tuhan Yesus membangkitkan seorang pemuda. Dalam peristiwa tersebut kita dapat melihat satu pokok penting yang dapat kita hidupi, yakni percaya. Coba saja jika orang-orang dan ibu dari pemuda itu tidak percaya sehingga mengusir Tuhan Yesus, pasti mukjizat itu tidak terjadi.
Dalam konteks sekarang ini, hal yang ditekankan kepada kita yakni kita harus percaya kepada Tuhan Allah atas segala karya-Nya dalam hidup kita. Kita dapat mengambil contoh dari Santa Monika. Dia tidak jemu-jemunya berharap agar mukjizat dari Tuhan terjadi atas anaknya Santo Agustinus. Dia berdoa agar anaknya dapat bertobat. Karena imannya yang luar biasa, pertobatan anaknya itu pun menjadi kenyataan. Maka dari itu, setia selalu dalam iman akan Allah sungguh penting. Karenanya kita dapat melihat banyak hal yang luar biasa terjadi dalam hidup kita.
(Fr. Fransiskus Ivandi Panda Raja)
“Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati–Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!” (Luk. 7:13)
Marilah berdoa :
Ya Bapa, ajarlah aku untuk tetap tidak jemu-jemunya selalu percaya dan mengandalkan-Mu. Amin.











