“Taat Bayar Pajak”: Renungan, Senin 13 Agustus 2018

0
3444

Hari Biasa (H)

Yeh. 1:2-5,24 – 2:1a; Mzm. 148:1-2,11-12ab,12c,14a,14bcd; Mat. 17:22-27

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pajak berarti pungutan wajib – biasanya berupa uang – yang harus dibayar oleh penduduk sebagai sumbangan wajib kepada negara atau pemerintah sehubungan dengan pendapatan, pemilikan, harga beli barang dan sebagainya.

Itu berarti membayar pajak adalah kewajiban seorang warga negara. Konsekuensinya, orang dapat pula menuntut haknya sebagai warga negara.

Kisah Injil hari ini menceritakan bagaimana manusia Yesus yang taat bayar pajak, kendati pajak bukanlah aturan hukum Taurat pada waktu itu. Selain itu, sebagai orang pribumi (=Kapernaum) Yesus sebenarnya tidak wajib membayar pajak karena hanya orang asinglah yang berkewajiban membayar pajak kala itu.

Namun, karena tidak mau menimbulkan persoalan di tengah-tengah kaum Yahudi, ia memilih untuk membayar pajak.

Yesus mau menunjukkan kepada mereka bahwa Ia bukan hanya taat kepada Bapa-Nya, tetapi juga kepada pemerintah kendati seringkali bertentangan dengan para pemimpin Yahudi yang notabene akan juga menyerahkan-Nya untuk dibunuh.

Ia tidak mau menimbulkan skandal yang dapat membuat mereka justru semakin berdosa. Ia menampilkan sosok seorang warga negara yang baik, yang tahu kewajibannya bagi pembangunan, khususnya pembangunan Bait Allah pada waktu itu.

Dari bacaan Injil, Yesus hendak mengajarkan kita orang-orang Kristiani zaman now nilai sebuah ketaatan dan tanggung jawab. Pertama, bahwa ketaatan kepada Bapa harus juga diimplementasikan dalam hidup sehari-hari. Kita ada di tengah-tengah dunia, berarti kita juga turut terlibat dalam kehidupan dan penghidupan dunia, tak terkecuali membayar pajak.

Memang, apa yang diberikan melalui pajak sebagai kewajiban kepada negara, tidak akan kita rasakan secara langsung. Namun, dengan demikian kita membantu bagi perkembangan dan kemajuan negara terlebih kehidupan orang lain yang mungkin berkekurangan.

Kedua, Yesus hendak mengingatkan pemimpin masyarakat untuk belajar mawas diri. Jangan sampai apa yang ‘dikeruk’ dari rakyat melalui pajak, justru tidak membawa hasil bagi perkembangan dan pembangunan negara ke depannya. Jangan sampai rakyat menderita karena hak kesejahteraannya dirampas atau bahkan dihapuskan.

Konsekuensi dari itu bisa berlapis-lapis: rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya, pemimpinnya dituduh menyelewengkan uang rakyat, dan seterusnya.

Dari sini kita diingatkan untuk tetap menjadi pribadi-pribadi yang penuh tanggung jawab terhadap apa yang menjadi hak orang lain ataupun hak bersama. Yesus sungguh-sungguh memberikan pencerahan bagi kita semua bagaimana menjadi pribadi yang serratus persen Kristiani serratus persen Nasionalis!

(Fr. Ray Legio Angelo Lolowang)

“Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka,…” (Mat. 17:27).

Marilah berdoa:

Ya Kristus, mampukanlah aku untuk taat demi kemuliaan-Mu yang semakin besar. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini