“Rahasia di Balik Kepemimpinan”: Renungan, Sabtu 25 Agustus 2018

0
6005

Hari Biasa (H)

Yeh. 43:1-7a; Mzm. 89:9ab-10,11-12,13-14; Mat. 23:1-12

Pemimpin adalah seorang yang memiliki kharisma, pandangan ke depan, daya persuasi dan intensitas. Hal tersebut dikarenakan menjadi pemimpin memerlukan bakat, ciri khas untuk mengantar satu kelompok atau  organisasi untuk mencapai tujuan bersama.

Dengan kata lain, menjadi pemimpin berarti mampu untuk memberikan hidupnya secara penuh dalam mengayomi anggota-anggotanya sehingga kesuksesan hidup dapat diraih.

Bacaan-bacaan hari ini mengisahkan Sang Pemimpin Sejati. Bacaan pertama menceritakan suatu penglihatan di Bait Allah yang adalah kemuliaan Tuhan yang membawa Yehezkiel sampai pada takhta Tuhan.

Peristiwa ini disebabkan oleh adanya daya Roh yang mendorong dan mengangkat serta mengantar Yehezkiel untuk masuk ke dalam pelataran Allah. Ia menjadi seorang pemimpin sejati karena selalu mendengarkan apa yang difirmankan oleh Allah kepada-nya. Ketaatannya kepada Allah membuat dirinya menjadi utusan Allah di tengah-tengah bangsa Israel.

Sedangkan, bacaan Injil menceritakan bagaimana syarat menjadi pemimpin yang benar dan sejati. Hal ini bertolak dari peristiwa ketika Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Bagi Yesus, menjadi pemimpin yang benar bukan hanya sebatas kata-kata, kesombongan hidup rohani; berdoa agar dilihat banyak orang, mengajarkan tetapi tidak mengikuti hukum Tuhan.

Oleh karena itu, Yesus menegaskan supaya kita janganlah disebut pemimpin, karena hanya ada satu pemimpin kita yaitu Mesias. Dialah yang menjadi pemimpin sejati kita.

Untuk menjadi manusia yang total, maka Kristus adalah teladan kita. Yesus turut ambil bagian dalam penderitaan dan sukacita manusia; bahkan Ia didera, disalib, wafat dan bangkit demi menghapus dosa-dosa manusia. Itulah kualitas sejati dari Sang Pemimpin yakni Mesias.

Kualitas sejati dari Mesias bukan seperti para ahli Taurat dan orang Farisi yang mengajar tetapi tidak melakukan hukum Tuhan. Yesus melakukan kehendak Bapa. Itulah kualitas yang Kristus berikan dan hidupi dalam diri-Nya dengan semangat mewartakan Kabar Gembira dan menyelamatkan umat manusia.

Yesus menjadi pemimpin sejati kita. Dia mengorbankan diri-Nya, melakukan hukum Tuhan, memiliki kharisma dan kerendahan hati untuk menggembalakan banyak orang.

Maka dari itu, menjadi pemimpin berarti memiliki semangat melayani, berkorban serta mengandalkan Kristus. Jika semangat ini hadir dalam diri kita, maka kita memiliki potensi untuk menjadi seorang pemimpin. Kuncinya yaitu biarlah Kristus hadir sebagai pemimpin kita sehingga hidup kita dalam perkataan maupun tindakan sesuai dengan ketetapan-Nya.

(Fr. Rafael Kelitadan)

“Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 23:11)

 Marilah berdoa:

Tuhan, berikanlah kami kekuatan untuk menjalani hidup ini. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini