“Perlu Ada Aturan”: Renungan, Rabu 15 Agustus 2018

0
2959

Hari Biasa (H)

Yeh. 9:1-7. 10:18-22; Mzm. 113:1-2,3-4,5-6; Mat. 18:15-20.

Suatu perkumpulan yang layak disebut sebagai komunitas atau persekutuan kelompok, dan lain sebagainya, tidak bisa lepas dari apa yang disebut tata tertib dan kultur atau budaya. Tentu semua itu memiliki tujuan.

Karena tata tertib, kultur atau budaya itu adalah sesuatu yang mengatur dan menata kehidupan bersama. Karena itulah, barangsiapa melanggar tata tertib harus ditegur dan jika tidak bisa lagi ditegur maka dalam arti tertentu diasingkan.

Bacaan-bacaan yang kita dengar pada kesempatan ini juga mengisahkan kepada kita pentingnya menjalani suatu tatanan moral. Karena tatanan moral itu dipercaya sebagai jalan untuk menentukan arah dan tujuan kita menuju masa depan yang lebih baik.

Dalam bacaan Injil, Yesus berkata: “Jika saudaramu berbuat dosa tegurlah dia di bawah empat mata… Jika ia tidak mau juga pandanglah dia sebagai orang yang tidak mengenal Allah…”. Perkataan Yesus yang kita dengar mau menjelaskan tiga cara menegur yang sopan ketika saudara-saudara kita melakukan kesalahan.

Pertama, ketika orang melakukan perbuatan jahat maka pertama-tama kita harus menegur secara langsung. Berarti kita harus bertemu muka dengan muka, kemudian memberikan teguran.

Kedua, jika ia memandang bahwa kita tidak pantas menegurnya, maka alangkah baiknya kita harus meneguhkan dia dengan penjelasan teman atau sahabat lain.

Ketiga jika ia memandang bahwa apa yang dibuatnya itu benar dan teguran kita itu salah, maka hadapkanlah dia kepada jemaat. Kita menghadapkan dia kepada suatu forum masyarakat yang diwakili oleh pihak-pihak terkait. Kalau ia juga ternyata tidak menghiraukan teguran jemaat, maka ia diasingkan.

Mengapa Yesus membuat peraturan semacam itu? Hak apakah yang dimiliki Yesus sehingga Ia mengatakan demikian? Dalam bacaan pertama telah dijelaskan bahwa mereka yang menderita sengsara mengalami kebebasan dan diangkat dari kekejian orang-orang jahat, karena telah dimeteraikan dengan huruf “T”. Huruf ‘T’ adalah lambang meterai yang menyelamatkan.

Saudara-saudari yang terkasih, Yesus menyatakan hak-Nya dalam membuat suatu peraturan atau tata tertib karena Ia telah membayar lunas hutang kita di atas kayu palang yang sudah lama dinubuatkan oleh nabi-nabi.

Maka bacaan-bacaan hari ini sesungguhnya mengingatkan kita supaya tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas, baik di hadapan masyarakat apalagi di hadapan Tuhan. Dengan demikian kita tidak diasingkan dari persekutuan iman kita. Sebaliknya, kebahagian dalam hidup bersama akan menjadi milik kita.

(Fr. Andreas Titirloloby)

“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah aku untuk setia mengikuti segala peraturan-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini