Pesta S. Bartolomeus, Ras (M)
Why. 21:9b-14; Mzm. 145:10-11,12-13a,17-18; Yoh. 1:45-51
Ketulusan hati untuk mau terbuka merupakan salah satu dasar yang dipakai untuk membangun relasi dengan orang lain. Memang keterbukaan terhadap kehadiran orang lain kadang memberi beban tersendiri dalam hidup kita, karena persisnya, kita belum tahu bagaimana tanggapan orang lain terhadap kita, apakah ia mau terbuka juga terhadap kita atau tidak.
Akan tetapi ketulusan atau kesungguhan hatilah yang menjadikan kita mampu dengan sungguh-sungguh boleh menerima orang lain sebagaimana adanya dirinya dalam hidup kita. Sekalipun ada penolakan terhadap kita. Itulah manusia dengan kehendaknya sendiri yang dengan bebas memilih mau terbuka atau tidak terhadap orang lain.
Nathanael dalam Injil memberikan teladan hidup sebagai pribadi yang dengan tulus mau terbuka terhadap kehadiran Tuhan Yesus dalam dirinya. Karena itu, Tuhan Yesus berkata bahwa ia adalah seorang Israel sejati dan tanpa kepalsuan di dalam dirinya.
Tanpa kepalsuan berarti suatu identitas diri yang tampil sebagaimana adanya dirinya dengan kualitas hidup yang sungguh-sungguh memiliki ketulusan hati. Dalam hal ini Nathanael punya kualitas hidup yang dengan tulus mau terbuka dan menerima Yesus sebagai raja dan Tuhan yang hidup.
Karena itu, dalam Injil, Natanael berkata, “Rabi, Engkaulah Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” (Yoh. 1:49). Penerimaan dan pengakuan itu menunjukkan sebuah keyakinan, kepercayaan dan iman yang besar terhadap Tuhan Yesus. Percaya kepada Tuhan Yesus merupakan suatu kualitas hidup yang bermakna bagi dirinya, karena dalam Kristus, nampak sebuah cahaya harapan yang menyejukkan jiwa.
Selain itu, pengakuan Nathanael memberikan suatu pernyataan bahwa Tuhan Yesus adalah seorang Israel sejati, seorang Raja dan Anak Allah yang akan memberikan keselamatan kepada dunia. Dengan itu, pernyataan dan pengakuan terhadap identitas Yesus sebagai Tuhan bukan datang dari diri-Nya sendiri, tapi datang dari orang-orang yang melihat, percaya dan terbuka kepada-Nya.
Tuhan Yesus telah membuka diri-Nya untuk mengundang kita masuk dan menjadi bagian dari diri-Nya. Undangan itu menghasilkan suatu konsekuensi keselamatan bagi setiap orang yang percaya dan mau terbuka kepada kehendak-Nya.
Yohanes dalam penglihatannya menunjukkan suatu kota yang penuh dengan kemuliaan Allah, dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih, seperti kristal. Sungguh merupakan sebuah kebahagiaan jika kita berada di dalam kota yang penuh dengan kebahagiaan itu.
Nathanael yang disebut juga Santo Bartolomeus, yang kita rayakan pestanya hari ini sudah mendapatkan kota kebahagiaan itu, karena ia mau terbuka terhadap panggilan dan telah memberikan diri seutuhnya untuk Tuhan. Bagaimana dengan kita?
(Fr. Nofri Ignatius Dianomo)
“Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel” (Yoh. 1:49)
Marilah berdoa:
Tuhan Yesus, bukalah hatiku untuk-Mu. Amin.











