“Berjaga-Jaga”: Renungan, Jumat 31 Agustus 2018

0
2987

Hari Biasa (H)

1 Kor. 1:17-25; Mzm. 33:1-2,4-5,10ab,11; Mat. 25:1-13

Sikap berjaga-jaga dalam kehidupan sehari-hari terkadang menjadi suatu yang melelahkan dan membosankan. Hal ini sering menjadi suatu aktivitas yang menurut kita tidak pasti dan tidak penting untuk dilakukan. Akibatnya, kita malas untuk melakukannya sekalipun itu untuk Tuhan.

Injil hari ini mengisahkan kedatangan Tuhan itu seperti datangnya seorang pengantin, yang akan dijemput oleh sepuluh gadis. Di antara mereka, ada lima gadis yang bodoh dan lima gadis yang bijak. Mereka hendak menyambut kedatangan sang pengantin dengan membawa pelita sebagai penerang. Gadis-gadis yang bodoh tidak membawa persediaan minyak seperti yang dilakukan oleh gadis-gadis bijak.

Gadis-gadis yang bodoh yakin bahwa sang pengantin tidak akan datang pada waktu malam, hal ini berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh lima gadis yang bijak. Ketika sang pengantin datang, gadis-gadis yang bodoh terkejut dan akhirnya tidak bisa masuk untuk mengikuti pesta sang pengantin. Mereka ditolak karena sudah datang terlambat akibat mesti pergi mencari minyak terlebih dahulu. Penyebabnya, mereka sebelumnya tidak memiliki persediaan minyak untuk pelita. Sedangkan lima gadis yang bijak, karena persediaan minyak yang cukup, dapat menyambut sang pengantin dan mengambil bagian dalam perjamuan nikah.

Pengalaman gadis-gadis yang bijak menunjukkan bahwa berjaga-jaga itu sangatlah penting. Karena kedatangan Tuhan itu tidak dapat ditentukan oleh manusia. Tuhan datang pada waktu yang tak bisa diduga. Kedatangan Tuhan itu kapanpun bisa terjadi, sehingga kita harus selalu siap untuk menyambutNya.

Bercermin dari gadis-gadis yang bijak, kita pun berusaha membuka pintu hati kita untuk menyambut kedatangan Tuhan. Sebab itu, minyak hidup kita harus selalu terisi. Minyak cinta kasih, minyak pengampunan, minyak rahmat atas pelayanan, perhatian akan sesama yang menderita, yang berkekurangan, yang tertindas, yang tertimpa kesusahan. Pengorbanan kita, entah korban waktu, tenaga, harta dan korban perasaan karena ingin menciptakan kedamaian dan kerukunan di tengah perbedaan yang ada. Semuanya itu harus diisi mulai saat ini dan harus dihayati dalam hidup sehari-hari.

Dengan demikian, kita selalu berjaga-jaga dan siap siaga dalam menantikan kedatangan Tuhan. KehadiranNya selalu menyinari seluruh hidup kita dan menghantar kita pada jalan keselamatan. Bersama Dia, hidup kita selalu bercahaya seperti pelita yang tak pernah padam dan menjadi penerang di tengah kegelapan.

(Fr. Petrus Marius Sakbal)

“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya” (Mat. 25:13)

Marilah berdoa:

Ya Bapa, kuatkanlah hambaMu untuk senantiasa setia dan terus berjaga untuk menyambut Engkau. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini