“Allah adalah Kasih”: Renungan, Sabtu 18 Agustus 2018

0
2750

Hari Biasa (H).

Yeh. 18:1-10,13b,30-32; Mzm. 51:12-13,14-15,18-19; Mat. 19:13-15. 

Manusia adalah mahkluk yang begitu unik dan istimewa. Kistimewaan itu  terletak pada pelbagai kualitas yang kita miliki. Seperti, kehendak bebas, akal budi dan hati. Ketiganya memiliki peran penting dalam pengembangan kualitas manusia. Walau berbeda tapi tujuannya satu, yakni manusia sendiri.

Akal budi memiliki intelegensi untuk membedah mana yang baik dan jahat. Sementara hati mampu membuat kita peka terhadap situasi kehidupan sosial. Kehendak bebas mengungkapkan dimensi kebebasan apapun tanpa halangan atau hambatan dari yang lain.

Namun satu hal yang sering terjadi pada manusia adalah kelalaian dalam hidup. Manusia sering bertindak tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Semuanya terjadi karena kelemahan manusia untuk mengontrol. Kehilangan kontrol dapat mengakibatkan masalah bagi diri sendiri dan sesamanya.

Hal identik tampil dalam sejarah kehidupan umat manusia. Karena situasi ini, Allah ingin menyelamatkan umat manusia. Bukti keselamatan adalah diri Yesus Kristus sendiri. Allah melakukan hal ini karena cinta-Nya kepada manusia.

Kasih Allah ini nampak dalam bacaan pertama. Di dalamnya, Allah menghendaki agar bangsa Israel hidup dengan baik dan benar dihadapan-Nya. Kehidupan yang dikehendaki Allah ialah tidak menindas orang lain, memberikan makanan kepada yang lapar dan memberikan pakaian kepada orang telanjang.

Allah memperingatkan itu kepada bangsa Israel agar kelak mereka dapat memperoleh hidup bahagia. Bahkan ketika bangsa Israel jatuh ke dalam dosa Allah meminta agar mereka segera bertobat dan membaharui diri serta roh mereka. Dengan demikian Allah mau mengangkat bangsa Israel pada suatu martabat yang luhur.

Cinta kasih Allah itu terwujud dalam diri Yesus Kristus yang datang ke dunia. Keselamatan yang datang dari Allah merupakan keselamatan yang universal. Penebusan itu terjadi dalam diri setiap manusia, dari yang kecil sampai yang dewasa. Yesus Kristus membuka pintu hati-Nya bagi semua orang yang mau datang dalam pelukan kasih dan hidup bersama. Yesus mengetahui bahwa melalui Dia semua orang akan mengalami persatuan dengan Allah.

Maka dari pada itu Yesus menegur murid-murid-Nya dan berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku”. Perkataan Yesus ini hendak menegaskan bahwa semua orang, baik yang kecil maupun yang besar, sama di hadapan Allah. Demikian juga berkat-Nya diperuntukkan bagi semua orang. Sikap yang ditunjukkan Yesus hendak mencerminkan siapakah Allah yang sesungguhnya, yakni Allah itu adalah kasih.

(Fr. Leo Laiyan)

“Biarkanlah anak-anak itu, jangan menghalangi-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang seperti inilah yang empunya Kerajaan Surga” (Mat. 19:14).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah aku supaya selalu mengasihi orang lain terutama mereka yang menderita akibat perbuatan diriku dan orang lain. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini