Hari Biasa (H)
Ams. 8:4-6, 9-12; Mzm. 119:2, 10,20,30,40, 131; Mat. 9:9-13.
Dalam kompetisi antar klub sepak bola, tak jarang ditemukan adanya pemecatan pelatih di tengah perguliran kompetisi. Hal tersebut terjadi, ketika sebuah klub sepak bola sedang terpuruk atau mengalami banyak kekalahan.
Setelah pemecatan itu, sebuah klub sepak bola pasti segera mencari pelatih baru yang dianggap mampu menghantar tim itu tampil lebih baik. Setelah adanya kesepakatan bayaran dan kontrak, pelatih tersebut akan mulai melaksanakan tugasnya untuk mengangkat keterpurukkan tim yang bersangkutan.
Injil yang kita dengarkan hari ini mengisahkan tentang Yesus yang makan di rumah Matius, seorang pemungut cukai. Ia dianggap oleh masyarakat di zaman itu sebagai pendosa. Di rumah itu, Yesus dan murid-murid-Nya makan bersama banyak pemungut cukai dan banyak orang berdosa lainnya.
Ketika orang-orang Farisi melihat hal demikian, mereka bertanya kepada murid Yesus tentang mengapa Yesus makan di tempat demikian. Mendengar itu, Yesus berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit”.
Pernyataan Yesus itu memperlihatkan bahwa Ia datang untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Tindakan Yesus yang mau datang kepada orang-orang terpuruk berbeda dengan tindakan seorang pelatih dalam sebuah klub sepak bola yang datang di saat klub tersebut sedang terpuruk.
Seorang pelatih klub sepak bola datang atas permintaan dari manajemen klub dan setelah adanya kesepakatan bayaran atau gaji. Sementara itu, Yesus datang atas keinginan-Nya sendiri. Kasih sayang dan cinta-Nya kepada manusialah yang membuat Ia mau melakukan hal tersebut, bukan karena adanya persembahan atau bayaran tertentu.
Saudaraku yang terkasih, kita sadar bahwa kita pasti tak pernah luput dari dosa. Maka sepantasnya kita mengizinkan Yesus datang pada kita. Biarkan Dia datang dalam keterpurukan kita.
Tentu Yesus tidak akan datang secara nyata dalam wujud yang bisa dicerna oleh indera manusia. Ia hadir dalam sesama yang ada di sekeliling kita. Untuk itu, dalam keadaan terpuruk, kita mesti membuka diri terhadap sesama.
Orang-orang di sekeliling kita merupakan simbol kehadiran Yesus yang bisa membantu kita dalam keterpurukan, karena itu kita diajak untuk saling memperhatikan dan peduli satu dengan yang lain. Semoga kita senantiasa terbuka kepada Yesus yang datang dalam keterpurukan kita lewat sikap terbuka kepada sesama yang ada di sekitar kita. Rahmat Allah senantiasa menolong kita.
(Fr. Frans Labia)
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Mat. 9:12).
Ya Tuhan, semoga aku senantiasa menerima kehadiran-Mu yang datang dalam keterpurukanku. Amin.











