“Pentekosta”: Renungan, Minggu 20 Mei 2018

0
3179

Hari Raya Pentekosta

Kis 2:1-11; Gal. 5:16-25; Yoh. 15:26-27; 16:12-15

Kepada para murid-Nya Yesus menjanjikan Roh Penghibur, Parakletos, yang berarti “dia yang dipanggil untuk berada di dekat, menyertai, membantu, menguatkan, menghibur, menasehati, dan menjamin”. Dalam bahasa Latin Roh Penghibur diterjemahkan dengan kata Advocatus, yang berarti “dia yang dipanggil untuk”. Kita ingat kata “advokat”, seorang pengacara, yaitu seorang yang dipanggil untuk membantu memberi nasehat hukum dalam urusan hukum yang rumit.

Janji Yesus itu terpenuhi di hari Pentekosta, hari kelima puluh sesudah kebangkitan-Nya. Memperingati hari Pentekosta, orang-orang Yahudi dari pelbagai penjuru dunia berziarah ke Yerusalem untuk memperingati hari pemberian Hukum di Gunung Sinai, hari kelahiran mereka sebagai Umat Allah. Hukum itulah pedoman dan petunjuk yang mengarahkan hidup mereka menuju keselamatan. Itulah sebabnya “di Yerusalem berkumpul orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit” (Kis. 2:5).

Kita juga akan mengerti mengapa “Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing” (Kis. 2:2-3). Inilah gambaran tentang pewahyuan Diri Allah kepada Musa dan umat Israel di gunung Sinai, ketika Allah memberikan Hukum-Nya kepada Musa, ketika Allah mengikat perjanjian dengan umat-Nya (Kel. 19:18-20).

Selanjutnya dalam Kisah Para Rasul kita mendengar tentang para murid yang penuh dengan Roh Kudus dan berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain (Kis. 2:4). Penulis Kisah Para Rasul sedang berbicara tentang terpenuhinya nubuat Nabi Yoel yang memaklumkan turunnya Roh Allah ke atas semua manusia  (Yl. 2:28-29).

Gambaran-gambaran di atas menegaskan bahwa hari Pentekosta adalah hari kelahiran Umat Allah, hari berdirinya Gereja. Inilah waktu ketika perjanjian yang baru antara Allah dengan Gereja diikat dan ditawarkan kepada segala bangsa.

Yesus menjanjikan Roh Penghibur dan Yesus memenuhi janji-Nya pada hari Pentekosta. Roh Penghibur melahirkan, menghibur, dan menasehati Gereja dalam perjalanan hidupnya.

Saudara-saudara, tidak pernah ada Gereja tanpa Roh Kudus. Takkan ada kesaksian Gereja tanpa bantuan, dorongan dan penyertaan Roh Penghibur. Itulah sebabnya, Rasul Paulus mengajak umat di Galatia dan mendorong kita semua untuk hidup dalam Roh. Hasilkanlah buah-buah Roh dari hidup kita! Karena buah-buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, sikap lemah lembut, dan penguasaan diri.

(P. Ventje Felix Runtulalo, Pr)

“Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku” (Yoh. 15:27).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, utuslah Roh-Mu dan baharuilah aku. Aku mau hidup dalam Roh. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini