Hari Biasa Pekan V Paskah (P).
Kis. 16:1-10; Mzm. 100:1-2,3,5; Yoh. 15:18-21.
Zaman sekarang dalam konteks media sosial kita lazim menemukan seseorang yang membenci orang lain bahkan kita sendiri, yang dikenal dengan istilah haters. Contoh konkret, kita melihat kehidupan para artis. Haters menjadi semacam terotomatisasi. Ketika mereka melihat seorang artis menjadi terkenal/terpandang, maka semakin banyak pula haters yang akan datang mengutarakan kebencian dan bahkan menjatuhkan martabat mereka. Kita sendiri juga sering merasa bahwa di sekitar kita ada orang-orang tertentu yang mengutarakan kebencian baik secara langsung maupun lewat orang lain.
Di zaman Yesus hal itu pun terjadi. Kehadiran Yesus di tengah-tengah masyarakat, serta ajaran-ajaranNya yang sangat memukau, membuat orang-orang farisi dan ahli Taurat merasa tidak nyaman. Kehadiran Yesus dianggap menjadi ancaman bagi kehidupan mereka terutama dari segi popularitas. Dalam beberapa kesempatan, Yesus dengan tegas menegur kemunafikan mereka di depan masyarakat yang kala itu hadir untuk mendengar ajaranNya. Kebencian mereka akan Yesus berpuncak pada fitnah yang menyebabkan Yesus harus dihukum mati.
Dalam perjalanan sejarah Gereja, kita sebagai pengikutNya pun memiliki haters dari masa ke masa. Hal ini menjadi konsekuensi sebagai seorang pengikut Kristus. Bacaan Injil hari ini menceritakan pesan Yesus kepada kita murid-muridnya, soal haters. Kita tentu ingat peristiwa Gereja Lidwina Yogyakarta beberapa bulan lalu. Yesus mengingatkan kepada kita bahwa dunia akan membenci kita, konteks dunia bukanlah berarti semua orang. Tetapi menggambarkan bahwa tidak sedikit orang yang membenci kita. Lihat saja para martir yang dengan kejam disiksa dan dibunuh hanya karna mengimani Yesus.
Kasih adalah kunci utama mengalahkan mereka yang membenci kita. Walaupun terlihat bodoh secara manusiawi, tapi inilah keutamaan kita sebagai orang Kristen. Yesus sendiri membuktikan bahwa kebencian yang dibalas dengan kebencian tidak akan berujung kepada perdamaian, dan senantiasa akan terperangkap dalam lingkaran setan. Ketika Ia mendoakan mereka yang menyalibkannya, Ia membuktikan kepada kita bagaimana menghadapi haters yang bukan hanya manjur saat itu tapi manjur hingga detik ini.
St. Teresa dari Kalkuta pernah dibenci pemerintah setempat ketika Ia menolong orang-orang pinggiran. Ia dituduh mengkristenisasi penduduk di sana. Namun dengan sikap tenang ia tidak menghiraukan kata-kata dari pemerintah sekitar dan terus berbuat kasih. Semoga kita pun dalam hidup setiap hari, dapat membagi kasih bagi siapa saja yang kita jumpai.
(Fr. Geraldo Lolong)
“.,.,Seorang hamba tidak lebih tinggi dari pada tuannya.,.”(Yoh 15:20b)
Marilah berdoa:
Tuhan, bantulah kami agar dapat mengasihi orang yang membenci kami. Amin.











