Hari Biasa (H)
Yak. 5: 1-6; Mzm. 49: 14-15ab, 15cd-16, 17-18, 19-20; Mrk. 9:41-50
Tidak ada pengertian yang pasti tentang apa artinya hidup. Hidup selalu mendapat tafsiran yang berarti ganda. Artinya bahwa setiap orang selalu mengartikan hidup sesuai dengan realitas yang dihidupinya.
Misalnya, hidup adalah waktu, hidup adalah uang, hidup itu sulit, hidup itu pilihan, hidup itu perjuangan, hidup adalah kesempatan dan lain sebagainya. Karena hidup selalu mendapat interpretasi subyektif dari setiap manusia. Oleh sebab itu, satu hal yang dapat dikatakan di sini adalah hidup tidak dapat didefenisikan melainkan hanya dapat dideskripsikan dan dijalani dengan penuh makna.
Memang istilah hidup tidak pernah mencapai suatu defenisi mutlak yang berlaku objektif bagi semua manusia. Akan tetapi hal demikian tidak boleh membingungkan kita. Sebagai umat beriman, kita telah memiliki hidup dalam Kristus melalui pembaptisan dan pelbagai sakramen lain. Lagi, Sabda Tuhan hari ini memberikan sebuah gambaran hidup sebenarnya kepada kita. Hidup abadi di surga bersama Allah Tritunggal.
Untuk sampai pada kehidupan demikian, Yesus, pada hari ini memberikan sebuah pegangan hidup sekaligus tantangan bagi kita dalam dunia sekarang ini. Yang dimaksud Yesus adalah kehidupan yang benar dan layak untuk dihidupi, yakni hidup berdamai dengan sesama dan jangan menyesatkan orang lain.
Ungkapan Yesus tersebut menjadi suatu pernyataan yang sangat menantang dan relevan dalam kehidupan manusia. Yesus menunjukkan bahwa musuh terbesar dalam dunia sekarang adalah diri sendiri. Misalnya, sikap egois, individualis dan sebagainya.
Segala fakta ini mengungkapkan suatu krisis terbesar yang berasal dari dalam diri manusia. Manusia mesti berusaha untuk mengatasi krisis diri sendiri agar tidak menjalar kepada orang lain, sehingga tidak menyulitkan dan menyesatkan sesama manusia.
Sebaliknya, suatu usaha berbenah diri dan mewujudnyatakan kata-kata Yesus di atas akan menjadi suatu mukjizat dalam dunia sekarang. Akan menjadi suatu tanda luar biasa dalam dunia sekarang yang terus dilanda krisis kepribadian.
Sekarang Ilmu Pengetahuan-Teknologi berkembang begitu pesat. Satu konsekuensi negatif dari perkembangan ini adalah nilai kemanusiaan tidak menjadi prioritas. Kehidupan tidak menjadi unsur penting lagi. Misalnya, klonning yang melibatkan manusia sebagai kelinci percobaan.
Semua itu jelas membuat kita bingung tentang arti dan makna hidup yang kita jalani ini. Supaya menemukan kembali arti hidup ini, Sabda Tuhan mengajak kita untuk mengikuti jalan Yesus dengan mendengar dan melaksanakan Firman-Nya.
(Fr. Amatus Watkaat)
“Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain” (Mrk. 9:50b).
Marilah berdoa:
Tuhan, bantulah agar aku menyadari betapa bermartabatnya diriku dan sesamaku. Amin.











