Hari Minggu Paskah V (P)
Kis. 9:26-31; Mzm. 22:26b-27,28,30,31-32; 1 Yoh. 3:18-24; Yoh. 15:1-8
Hidup ini adalah anugerah Allah bagi kita. Tak ada seorang pun di dunia ini yang minta untuk dilahirkan, tetapi Allah-lah yang menghendakinya untuk lahir dan hidup. Itu artinya, hidup kita berasal dari Allah. Dialah sumber hidup kita. Di dalam Dia kita memperoleh kekuatan, sebaliknya di luar Dia kita binasa.
Hal tersebut ditegaskan oleh Yesus dalam Injil hari ini, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”
Allah memang tidak pernah menjanjikan hidup tanpa penderitaan, tetapi Ia menjamin keselamatan dan kebahagiaan bagi siapa saja yang setia kepada-Nya di tengah penderitaan yang ada. Penderitaan yang kita alami akan terasa ringan jika kita sungguh-sungguh mengandalkan dan melibatkan Tuhan di dalamnya.
Rasul Yohanes mengajak kita untuk hidup saling mengasihi. Dalam hal ini, mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. Hal ini menunjukkan betapa kesatuan kita dengan Allah membuahkan kasih, sebab Allah adalah kasih.
Hidup kita hendaklah senantiasa menjadi saluran kasih Allah bagi sesama. Hendaklah baik pikiran, perkataan, perbuatan, dan totalitas diri kita menjadi sarana yang hidup bagi kesaksian akan kasih Allah kepada sesama dan dunia. Sama seperti ranting dapat berbuah banyak jika tinggal pada pokok anggur, demikian pula hidup kita akan berbuah kebaikan dan kebenaran, jika kita selalu dekat dan tinggal di dalam Dia.
Untuk itu, tinggallah selalu di dalam Allah. Sebab Allah tidak membiarkan umatNya selalu menderita. Ia pasti datang dan membebaskan penderitaan kita. Tak seorang pun dapat membatasi dan menghalangi karya belas kasih Allah. Sebab kasih mengatasi segalanya. Di bawah kasihlah bergantung semua hukum dan kitab para nabi, dan di atas kasihlah berdiri bangunan kedamaian. Jika demikian, sudahkah kita membalas kasih Allah itu dengan memperhatikan sesama yang menderita?
(Fr. Wayan Sugiarta)
“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5).
Marilah berdoa:
Ya Allah, mampukanlah aku untuk senantiasa tinggal dalam kasih-Mu. Amin.











