“Keselamatan diperoleh karena Kepercayaan”: Renungan, Kamis 7 April 2022

0
1180

Hari Biasa Pekan V Prapaskah (U)

Kej. 17:3-9; Mzm. 105:4-5, 6-7. 8-9; Yoh. 8:51-59.

Orang-orang dapat dikagumi, dijadikan pemimpin yang sejati, menjadi penuntun arah setiap dinamika kehidupan berkat suatu kepercayaan. Dalam dunia karir, suatu pekerjaan yang dilakoni oleh setiap orang mendapat suatu reward atau suatu hadiah, berkat kepercayaan yang ia bangun terhadap dirinya sendiri maupun kepercayaan yang ia jaga dengan baik dari atasannya pun teman-teman sekelilingnya. Kepercayaan menjadi suatu hal penting. Namun walaupun penting, kepercayaan pada masa sekarang sudah merosot pada arah yang negatif.

Kepercayaan manusia sekarang ini terkadang didominasi oleh kekuasaan dan popularitas. Perilaku setiap orang bisa berubah hanya karena melihat dan meniru gaya hidup dari mereka yang memiliki kekuasaan dan popularitas. Jadi, kepercayaan sekarang digantungkan pada siapa yang memiliki kekuasaan dan popularitas.

Dalam bacaan Injil hari ini kepercayaan digantungkan pada kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang. Abraham sejak dahulu telah dikaruniai keturunan dan kekuasaan atas segala bangsa. Kekuasaan dan popularitas Abraham inilah yang menjadi patokan orang-orang Yahudi untuk bersikap. Bahkan mereka membantah Yesus karena Ia menyamakan dirinya dengan Allah yang orang-orang Yahudi kenal lewat pewartaan Abraham. Bahkan lebih keji lagi, mereka yang menghujat Yesus dengan kata “kerasukan setan”. Apa alasan mendasar orang-orang Yahudi mengatakan demikian? Karena kurang pahamnya orang Yahudi bahwa Firman yang diwartakan Abraham mendapat puncaknya dalam karya dan hidup Yesus. Yesus adalah Sabda yang menjadi manusia. Karena alasan inilah dalam bacaan Injil Yesus mengatakan bahwa Ia sudah ada sebelum Abraham ada, sebab Sabda atau Firman yang diwartakan Abraham mendapat pewahyuan dalam diri Yesus Kristus.

Yesus yang adalah Firman yang menjadi manusia telah ditolak oleh orang Yahudi hanya oleh popularitas dan kekuasaan seseorang. Abraham adalah orang besar dalam karya keselamatan Allah. Tetapi orang lebih terfokus pada kekuasaan dan popularitas Abraham dibandingkan dengan apa yang diwartakan Abraham. Sebab jelaslah bahwa Abraham mewartakan Sabda Allah dan Yesus yang adalah Sabda Allah sama sekali tidak bertentangan. Tetapi hal itu akan menjadi masalah jika orang tidak berpatokan pada apa yang menjadi isi pewartaan melainkan pada kekuasaan dan popularitas.

Zaman sekarang ini, kebenaran menjadi kabur hanya karena popularitas dan kekuasaan. Apa yang pada zaman ini lazim dikatakan viral seakan-akan menjadi kebenaran tunggal yang dipercayai oleh seseorang. Misalnya, kehidupan mewah yang ditampilkan oleh orang yang berkuasa menjadi patokan massa untuk berperilaku dan menghilangkan kekhasan hidup sederhana yang diwartakan Yesus semasa hidup-Nya. Oleh karena itu, marilah kita berpatokan dengan apa yang dikatakan oleh pemazmur: “Carilah Tuhan dan kekuatanNya, carilah wajahNya selalu!”

(Fr. Dirros Pugon)

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” (Yoh. 8:51).

Marilah Berdoa:

  1. Tuhan, buatlah aku untuk semakin mencintaiMu ajaranMu, dan kuatkanlah aku untuk melaksanakan firman-Mu yang Maha agung itu. Amin.

           

 

`

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini