“Rahasia hidup baru” Renungan: Minggu, 3 April 2022

0
2026

Hari Minggu Prapaskah V (U)

Yes. 43:16-21; Mzm. 126:1-2b,2c-3,4-5,6; Flp. 3:8-14; Yoh. 8:1-11.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali jatuh pada membicarakan keburukan orang lain. Kita membicarakannya supaya cerita kita bisa hidup atau supaya diterima dalam pergaulan. Bahkan seorang membicarakan orang lain supaya mengajak lawan bicara membenci orang orang lain atau ingin membalas dendam. Tentunya membicarakan keburukan orang lain merupakan salah satu tindakan yang tidak terpuji. Bagi banyak orang dikenal dengan istilah gosip. Dalam bahasa anak muda sekarang ialah ‘ghibah’.

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang seorang perempuan yang berzinah. Perempuan tersebut bukan hanya menjadi bahan cerita orang lain atau gosip dan ‘ghibah’ sekitarnya namun mereka ingin melemparkan batu kepadanya. Perempuan itu diperhadapkan kepada Yesus untuk diadili atau dihukum sesuai dengan hukum taurat dari Musa. Ahli taurat dan orang-orang Farisi sengaja untuk mencobai Yesus. Akan tetapi Yesus tidak menghukum perempuan itu namun memberi kesempatan untuk bertobat agar menemukan kembali keselamatan. Yesus menolak dosa dan kejahatan, namun Ia mengasihi pendosa supaya kembali ke jalan yang benar. Yesus bukan penegak hukum dan pengadilan namun Bapa yang penuh kasih.

Dalam bacaan pertama, kitab Yesaya oleh Firman Tuhan menyadarkan dan mengajar bangsa Israel untuk meninggalkan kenangan zaman purbakala dimana untuk kembali hidup baru. Melalui Tuhan, mereka sudah menjadi umat pilihan dan mereka hendak menerima sesuatu yang baru.

Bacaan yang kedua, Filipi memberikan teladan bagaimana membaharui hidup secara baru. Paulus hidup secara baru dalam Kristus dengan menanggalkan segala sesuatu untuk mengabdi kepada Kristus sama seperti bangsa Israel. Karena itu hal yang penting dalam hidup yang baru juga ialah pengenalan akan Kristus serta kuasa kebangkitan-Nya. Hal ini kita dapatkan lewat doa dan membaca Kitab Suci, kemudian bersatu dalam kematian-Nya agar bisa serupa dengan kematian Kristus yakni dapat dibangkitkan. Itulah hadiah dari hidup yang baru.

Dalam masa prapaskah ini kita diajak untuk menanggalkan hidup lama kita kemudian menjadi hidup baru. Walaupun kita sering berbuat dosa dan kesalahan tetapi Yesus bukanlah lembaga penegak hukum akan tetapi Dia adalah Bapa yang penuh kasih.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa tidak ada keluarga yang sempurna. Kita tidak mempunyai orang tua yang sempurna. Kita tidak menikah dengan orang yang sempurna atau punya anak yang sempurna. Kita saling mengeluh satu dan lainnya. Kita saling membuat kecewa. Karena itu pengampunan itu sangat penting. Tanpa pengampunan keluarga akan menjadi arena konflik, keluarga akan sakit. Pengampunan adalah pelindung jiwa, pembersih pikiran dan pembebasan hati.

 (Fr. Marciano Pantow)

Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan janganlah berbuat dosa lagi mulai sekarang (Yoh. 8:11b)

Marilah berdoa:

Ya Bapa berikanlah kekuatan kepadaku untuk menanggalkan hidup yang lama dan tuntunlah aku dalam usahaku membaharui diri pada hidup yang baru.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini