Injil hari ini bercerita tentang kebersamaan Yesus dan murid-murid-Nya. Mereka berkumpul mengelilingi meja untuk Makan Paskah. Sebuah ritual keluarga dari tradisi Yahudi. Mereka makan roti dan minum anggur yang sama. Yesus, Sang Guru, berbagi hidangan yang sama dengan Yudas Iskariot, yang nantinya akan mengkhianati-Nya. Yudas Iskariot biasanya digambarkan sebagai sosok yang jahat dan keruh, orang yang mewakili kejahatan dan pengkhianatan. Apa yang dilakukan oleh Yudas Iskariot merupakan sesuatu yang tidak diinginkan. Ia tega menyerahkan Yesus hanya karena sejumlah uang.
Dewasa ini masih ada “Yudas- Yudas lain” yang juga tidak segan-segan meninggalkan Yesus hanya untuk mendapatkan kedudukan di masyarakat, hanya untuk mencari popularitas, atau hanya karena cinta kepada seorang laki-laki atau wanita. Itulah kenyataan yang terjadi saat ini. Kita tahu bagaimana dewasa ini orang menggadaikan agamanya dengan kedudukan, popularitas, dan cinta. Kita menyaksikan, atau mungkin juga terjadi dalam keluarga kita, sanak saudara kita, bagaimana dengan mudahnya orang meninggalkan Yesus. Dalam Injil dikisahkan rupanya pengkhianatan Yudas tidak disangka sama sekali oleh para rasul lainnya. Mereka kebingungan dan sedih ketika Yesus mengatakan bahwa ada dari antara mereka yang akan menyerahkan Dia ke tangan musuh-musuh-Nya.
Kendati para rasul sedih, tetapi Yesus tetap tegar menghadapi saat-saat akhir hidup-Nya. Dia sungguh menunjukkan jati diri-Nya sebagai Mesias yang sesungguhnya. Penderitaan Yesus di kayu salib menjadi bukti cinta-Nya kepada umat-Nya sampai sehabis-habisnya. Peristiwa ini hendak mengajarkan kepada kita bahwa sekalipun saat ini mungkin kita sudah menjadi Yudas-Yudas yang lain, Yesus masih memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali kepada-Nya. Dia selalu membuka kedua tangan-Nya bagi kita, walaupun kita menjual-Nya dengan segala macam tujuan. Dia tetap setia menunggu untuk kembali kepada-Nya.
Keputusan terburuk Yudas adalah dia percaya bahwa dia tidak dapat dimaafkan karena itu dia bunuh diri. Yesus mengasihi kita dengan segala macam dosa yang kita sudah buat. Kita sering lupa karena kita berfokus pada diri kita dan dosa-dosa kita, bukan pada Yesus yang tersalib untuk kita. Kita sering lupa terhadap Yesus yang bersedia berlutut dan membasuh kaki kita karena mencintai kita dari bagian terdalam hatinya. Semoga dengan merenungkan perilaku Yudas, kita semakin menyadari kerapuhan kita. Kita diundang untuk membaharui diri dan bertobat.
(P. Dismas Valens Salettia, Pr)











