“Tetap Setia”: Renungan, 27 Maret 2018

0
3195

Dalam hidup, kita sering berjumpa dengan pengkhianat. Pengkhianatan sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga, persahabatan dan dalam mitra pekerjaan. Pengkhianatan membuat orang merasa kecewa, disakiti dan diremehkan serta martabatnya direndahkan. Kekecewaan, sakit hati dan perasaan direndahkan akan memicu konflik di antara sahabat, suami-isteri atau mitra kerja. Khianat berarti suatu ketidaksetiaan dan pengingkaran akan janji yang telah disepakati bersama. Bila berjanji, janji itu harus ditepati. Namun, kadang kala kita lari dari janji tersebut dan mengingkari komitmen yang dibangun bersama. Bahkan kadang kala kita bertindak berlawanan dengan janji kita. Karena kita telah mengingkari suatu komitmen, maka hubungan suami-istri, persahabatan atau mitra kerja menjadi hancur berantakan.

Injil hari ini mengisyaratkan pengkhianatan Yudas. Yesus mengungkapkan bahwa Yudaslah yang akan menyerahkan-Nya kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Yudas adalah salah seorang murid dari kalangan 12 rasul pilihan Yesus. Yesus sendiri mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Yudas. Tapi mengapa Yesus tidak mencegah Yudas untuk tidak menyerahkan-Nya kepada para ahli Taurat? Apabila Yesus mencegah Yudas, berarti Yesus lari dari penderitaan. Jika Yesus lari dari penderitaan, Yesus pun berkhianat terhadap tugas perutusan-Nya dan kepada Bapa yang mengutus-Nya. Untuk menuntaskan tugas perutusan- Nya ini, Ia harus menderita. Sebelum masuk kota Yerusalem, Yesus sendiri telah mengatakan bahwa anak manusia harus menderita dan pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati. Oleh karenanya, Yesus tidak ikut campur tangan atas pilihan Yudas. Ia tetap setia pada tugas perutusan- Nya. Ia setia pada Bapa  dan menanggung penderitaan, bahkan sampai wafat di kayu salib. Kesetian-Nya membawa kita pada keselamatan.

Memang dalam hidup, kadang kala kita menjumpai pengkhianat. Tapi, janganlah kita putus asa ketika ada orang yang mengkhianati kita. Jangan pula kita membalasnya dengan dendam dan amarah. Baiklah kita selalu setia pada Tuhan. Yesus dikhianati oleh Yudas salah seorang murid-Nya. Namun Dia tetap setia kepada Bapa yang mengutus-Nya dan terus berjuang demi tugas perutusan-Nya. Kita boleh belajar dari Yesus yang selalu setia kepada Bapa. Kesetiaan itu akan membawa kita pada kebahagiaan. Tuhan akan memperhitungkan semua yang kita perbuat. Setialah dalam kehidupan berkeluarga, dalam persahabatan dan dengan mitra kerja. Semua itu akan membawa kebahagiaan bagi kita.

(Fr. Kristoforus Mite)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini