“Keajaiban Berpikir Positif”: Renungan, Kamis 5 Juli 2018

0
3929

Hari Biasa (H)

Ams. 7:10-17; Mzm. 19:8.9.10.11; Mat. 9:1-8

Zaman Milenium ditandai dengan perkembangan teknologi. Dunia semakin dipenuhi dengan berbagai alat elektronik.

Pada zaman dulu orang mengirim surat dan butuh waktu yang lama untuk membacanya. Sekarang hanya butuh waktu beberapa hari saja bahkan sejam atau beberapa menit orang dapat membacanya.

Entah itu pengirimannya lewat kantor pos, handphone dan sebagainya. Dari sini, kita bisa lihat bahwa perkembangan dunia begitu cepat. Meskipun demikian, kita tak bisa lepas dari dunia yang jahat dan dunia yang baik. Kedua dunia ini selalu hadir dalam kehidupan kita.

Saudara-saudara yang terkasih, bacaan-bacaan pada hari ini lebih melukiskan tentang dunia yang jahat atau lebih dikenal dengan hal-hal negatif.

Dunia yang jahat, selalu ada dalam diri setiap orang, misalnya: mencuri, membunuh, iri hati, dengki, benci, dendam, dan merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki. Itulah kelemahan-kelemahan manusiawi yang tidak dapat dihindari.

Meskipun demikian, Allah tak membiarkan manusia jatuh dalam kejahatan, melainkan mengangkat dan mengampuni manusia dengan belas kasih-Nya.

Dalam bacaan pertama dikisahkan tentang seorang perempuan yang hidupnya tidak benar di hadapan Allah dan sesama.

Namun Allah memberikan kesempatan kepadanya untuk bertobat dan berusaha memperbaiki kehidupannya dengan cara mempersembahkan korban keselamatan agar ia dapat memperoleh kehidupan kekal.

Dalam bacaan Injil juga dilukiskan bahwa Allah itu maha murah, maha pengasih, maha pengampun kepada manusia. Kemurahan Allah itu dapat dilihat ketika orang lumpuh disembuhkan.

Dalam konteks ini, kuasa Allah diberikan kepada Yesus, Putera-Nya. Ketika Yesus menyembuhkan orang lumpuh dengan berkata: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni”.

Melihat hal itu, beberapa ahli Taurat berkata dalam hatinya bahwa Yesus telah menghujat Allah. Di sini, para ahli Taurat mempunyai prasangka, niat, pikiran yang buruk terhadap Yesus.

Perkataan, rencana jahat dari ahli-ahli Taurat ini diketahui oleh Yesus sehingga Yesus berkata kepada mereka: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu?”

Dari sini bisa dilihat bahwa para ahli Taurat lebih suka untuk memikirkan hal-hal yang buruk daripada hal-hal yang baik. Hal ini terjadi karena pikiran negatif selalu ada dalam diri mereka.

Saudara-saudara yang terkasih, sikap yang ingin ditunjukkan oleh Yesus pada hari ini adalah sikap cinta kasih, murah hati, dan pengampun.

Mujizat yang dilakukan oleh Yesus bukan pertama-tama mau menunjukkan bahwa Yesus itu punya kuasa tetapi punya belas kasih dan kemurahan kepada manusia.

Semoga lewat bacaan pada hari ini, kita selalu berpikir positif. Dengan begitu, kita menjadi saluran rahmat dan berkat bagi orang lain.

                    (Fr. Acak Wermasubun)

“Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni” (Mat. 9:2).

Ya Allah, jadikanlah hidupku berkat bagi orang lain. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini