Hari Biasa (H).
Keb. 18:14-16; 19:6-9; Mzm. 105:2-3,36-37,42-43; Luk. 18:1-8.
Salah satu kendala yang sering timbul dalam hidup doa kita adalah keluhan yang hendak mempertanyakan “kapan doa kita dikabulkan?” Dalam kehidupan dunia yang berkembang, kita dihadapkan pada situasi yang semuanya suka serba cepat, bahkan doa bisa terasa sebagai tindakan sia-sia tanpa kejelasan. Oleh karena itulah, kita tiba pada situasi pemikiran “daripada berdoa terus menerus tanpa kepastian akan dikabulkan, lebih baik berpaling pada yang pasti-pasti saja”. Maka, satu-satunya alasan untuk tetap bertekun dalam doa adalah iman. Itulah yang hendak dikemukakan oleh Yesus sendiri.
Iman merupakan tanda kepercayaan kita kepada Allah. Setiap orang beriman dituntut untuk memasrahkan dirinya secara utuh kepada Allah. Hal itu terjadi karena Allah selalu setia kepada umat-Nya. Allah tidak pernah mengingkari orang yang beriman kepada-Nya. Allah menginginkan umat-Nya untuk bertekun dalam doa. Kesetiaan dalam berdoa menjadi bukti penyerahan diri yang utuh kepada Allah.
Dalam Injil, Tuhan Yesus mengajarkan para murid untuk setia dalam doa. Hal itu dinyatakan-Nya dalam perumpamaan tentang hakim yang lalim. Seorang hakim yang tidak takut kepada siapa pun bahkan kepada Allah yang pasrah dan mengabulkan permintaan dari seorang janda. Kuncinya adalah kesetiaan dari janda tersebut untuk tidak jemu-jemu meminta kepada hakim. Allah kita jauh lebih baik dan berbelas kasih dibandingkan dengan hakim tersebut. Satu hal yang diminta kepada kita adalah berdoa dengan penuh kesetiaan. Tuhan Allah akan membenarkan orang yang berseru-seru kepada-Nya dalam kesetiaan. Bagi orang yang setia berdoa, pertolongan Tuhan akan selalu tepat pada waktunya.
Namun perlu disadari bahwa seringkali dalam hidup, manusia menjadikan diri sebagai hakim bagi sesama. Kita seringkali menempatkan diri sebagai hakim yang tak adil, yang gampang menilai dan menghakimi sesama tanpa perlu mendengarkan penjelasan mereka. Yesus mengajak kita para murid-Nya untuk berdoa, ketika kita berdoa, di situ iman dinyatakan. Memberi kesempatan kepada Allah untuk bekerja dengan cara-Nya, itulah semangat doa yang sejati. Dengan demikian, pertanyaannya bukan lagi seberapa cepat doa kita dikabulkan, melainkan seberapa dekat diri kita dengan Allah melalui doa yang kita persembahkan.
(Fr. Tonny Kuntag)
“Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Luk. 18:7).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, gerakkanlah hati kami untuk selalu datang berdoa kepada-Mu. Amin.











