Hari biasa (H)
BcE. Ezr. 9:5-9; MT Tb. 13:2,3-4a,4bcd,5,8; Luk. 9:1-6. BcO Yes. 7:1 -17
Dalam melakukan suatu aktifitas tentunya kita membutuhkan tenaga. Tanpa tenaga yang cukup, kita tidak dapat melakukan kegiatan tersebut. Semakin banyak kegiatan yang kita lakukan, maka semakin banyak pula tenaga yang kita butuhkan.
Injil hari ini berbicara tentang sebuah misi. Yesus mengutus para murid-Nya serta membekali mereka dengan kekuatan dan otoritas untuk mengusir roh jahat dan juga menyembuhkan orang sakit. Di sini terlihat jelas mengenai kepercayaan Yesus kepada manusia. Hal tersebut mau mengungkapkan bahwa karya keselamatan di dunia ini juga merupakan campur tangan pekerjaan manusia yang berdasar pada kekuatan dan kuasa Allah sendiri. Yesus mengharapkan agar setiap pengikut-Nya tetap menaruh kepercayaan pada-Nya.
Karena itu, ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya, Ia melarang mereka untuk membawa bekal. Yesus bukan bermaksud untuk membiarkan para murid hidup dalam kesusahan, namun perlu diketahui bahwa bekal non materi yang Ia berikan jauh lebih dari cukup. Para murid dituntun untuk fokus pada tujuan perutusan serta tanggung jawab yang diberikan kepada mereka. Dengan pergi tanpa bekal, para murid diajak untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap pekerjaan dan perutusan mereka.
Hidup sebagai umat kristiani, kita semua dituntut selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap tugas dan tanggung jawab kita. Maka dari itu, saya mengajak kita untuk berefleksi atas tiga hal. Pertama, apakah kita memiliki tenaga dan kuasa dari Tuhan dalam pelayanan kita? Sebagai murid Kristus, pastinya kita semua memiliki kuasa dan tenaga dari Tuhan. Hal ini terlihat jelas ketika kita mampu mengatasi persoalan-persoalan hidup yang dihadapi dalam setiap pelayanan kita sehari-hari. Kedua, apakah kita sungguh-sungguh menggunakan kuasa dari Tuhan tersebut untuk melayani sesama kita? Ketiga, apakah dalam pelayanan, nama Tuhan yang dipermuliakan ataukah diri kita sendiri?
Dalam bacaan pertama, ketika Ezra mengakui kesalahan bangsa Israel lalu memuliakan nama Tuhan, maka mereka semua memperoleh kelegaan dari Tuhan atas dosa-dosa mereka. Hal ini berarti bahwa dalam melakukan sebuah tugas atau tanggung jawab sebagai seorang pelayan dan murid Kristus, kita pertama-tama dituntut untuk melakukannya demi kemuliaan dan keagungan nama Tuhan. Marilah kita hidup sebagai murid-murid Kristus sejati yang selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap tugas dan tanggung jawab.
(Redaksi LJ)
“Karena sesungguhnya kami menjadi budak, tetapi di dalam perbudakan itu kami tidak ditinggalkan Allah kami” (Ezr. 9: 9).
Marilah berdoa:
Tuhan, bimbinglah kami agar selalu mengandalkan Dikau di setiap derap langkah hidup kami. Amin.











