“Harta Rohani”: Renungan, Jumat 17 September 2021

0
2592

Hari Biasa (H)

BcE 1 Tim. 6:2c-12; Mzm. 49:6-7, 8-9, 17-18, 20; Luk. 8:1-3

“Akar segala kejahatan ialah cinta uang,.. kejarlah keadilan, takwa, kesetiaan, cinta kasih, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal”. Uang menjadi sumber ketamakan dan keserakahan yang menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Uang adalah satu hal yang membuat seseorang menjadi tidak setia. Berhubungan dengan uang manusia sering kali jatuh dalam kelemahan-kelemahan manusiawi. Tetapi apakah uang menjadi halangan manusia untuk beriman? Atau haruskah manusia menjauhi uang bahkan menolaknya? Tentu saja tidak.

Uang adalah alat dan bukan tujuan. Sebagai orang Kristen, tujuan kita adalah keselamatan. Meletakkan pengharapan pada hal yang tidak pasti seperti uang adalah kesia-siaan. Pengharapan kita ialah Kristus yang menghantar manusia pada kesempurnaan. Keinginan manusia terhadap uanglah yang sering membuat uang tampak jahat dan terkesan negatif. Masalah uang adalah pilihan. Uang dapat dipakai dalam hal-hal yang baik seperti mendukung dalam pelayanan.Wanita-wanita yang melayani Yesus  dalam bacaan Injil hari ini memberi bukti bagaimana harta kekayaan wanita-wanita yang mengikuti Yesus digunakan dalam melayani seluruh rombongan Yesus. Mereka bersyukur atas berkat yang mereka terima dari Yesus sendiri. Keyakinan mereka kepada Yesus sebagai anak Allah berasal dari lubuk hati yang terdalam.

Kehadiran Yesus senantiasa terbuka untuk semua orang: untuk pendosa, untuk orang kusta, untuk mereka yang biasanya disingkirkan dari masyarakat, untuk orang-orang yang tidak dihitung dalam masyarakat seperti para wanita ini. Kitapun yang mengaku sebagai pengikut Yesus dan memilih untuk mengikuti Dia dipanggil pula untuk memenuhi kebutuhan sesama yang membutuhkan. Memberikan diri sendiri bagi orang lain adalah panggilan bagi setiap orang kristiani. Memberikan diri sendiri bagi orang lain membuat diri kita menjadi istimewa di tengah dunia yang dipenuhi dengan budaya materialisme dan konsumerisme yang berpusat pada diri sendiri.

Harta rohani yang sejati terwujud dalam sikap adil, takwa, setia, berbagi cinta kasih, kesabaran, kelembutan dan kerendahan hati. Sikap-sikap yang sedemikian akan membuat hidup lebih berahmat dan berkat Allah dalam hidup kita menjadi semakin bermakna. Harta, kekayaan, kenikmatan, kehormatan, kemuliaan duniawi akan habis dimakan ngengat. Tetapi mereka yang hidup miskin dengan dorongan Roh Kudus akan berbahagia karena bagi merekalah Kerajaan Allah.

(Fr. Fernando Runtu)

“Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar” (1 Tim. 6:7).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah aku pembawa sukacita di tengah dunia yang penuh tantangan ini sehingga aku mampu mewartakan kasih-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini