Pw Kornelius, Paus dan S. Siprianus, UskMrt (M).
1Tim. 4:12-16; Mzm. 111:7-8,9,10; Luk. 7:36-50.
Apakah kita sungguh mencintai Yesus? Bila kita menjawab ya, pertanyaan selanjutnya: hal apakah yang sungguh bernilai dalam hidup kita, yang sudah kita persembahkan kepada-Nya? Injil hari ini menampilkan sindiran Yesus kepada orang Farisi dan ahli Taurat bahwa ternyata yang lebih mengasihi Yesus adalah orang-orang berdosa yang bertobat daripada orang-orang yang sudah merasa benar atau merasa menjadi orang baik. Orang yang berhutang lebih banyak dan dihapuskan, dialah yang lebih mengasihi tuannya.
Dalam kehidupan nyata kita di lingkungan atau komunitas, kita tetap mencibir orang yang yang kita anggap telah melakukan dosa besar dan kita merasa hidup lebih benar daripada mereka. Dalam Injil berulangkali Yesus mengungkap soal keberpihakan-Nya kepada mereka yang merasa berdosa, namun mau datang kepada Tuhan. Yesus membuka wawasan kita agar kita waspada, karena ada orang yang senang memperlihatkan kebaikan, suka dihormati, senang dipuji, senang disebut dermawan, tetapi hatinya penuh kebusukan. Sedangkan yang kelihatan biasa saja, mungkin lebih baik peri hidupnya.
Banyak orang menilai orang lain hanya menurut tata lahir saja seolah-olah kalau orang kelihatan baik pasti ia benar-benar baik dan jujur. Kita sendiri tidak boleh berpuas diri kalau ada orang yang memuji kita. Hidup batin kita harus nampak dalam tata-lahir kita. Meskipun ketika kita bertindak jujur dan adil kadang dijauhi atau diejek orang, namun kita tak boleh mundur, karena Allah menilai kita bukan dari apa yang kita miliki, kita pakai atau status kita. Melainkan dari hati dan hidup kita.
Orang berdosa di hadapan Tuhan tetap bernilai, karena Tuhan menilai bagaimana orang menanggapi keadaannya dan memberikan pertanggungjawaban atas hidupnya. Tuhan tidak menilai hasil, tetapi maksud hati dan usahanya untuk mengembangkan pribadi dalam mengasihi sesama. Terkadang, Tuhan juga memilih orang yang berdosa untuk melaksanakan karya-Nya. Pertobatan menjadi jalan kesucian dari kesombongan rohani yang dimiliki oleh orang-orang yang merasa sudah baik, merasa diri super, dapat melakukan segala-galanya, dan kurang menghargai rahmat Tuhan dan kemampuan orang lain. Oleh karena itu dengan menyadari bahwa kita adalah manusia yang berdosa maka kita diajak untuk bertobat dan selalu mengandalkan Tuhan.
(Fr. Paskalis Jaftoran)
“Lalu ia berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni”” (Luk. 7:48).
Marilah berdoa:
Ya Bapa, ajarilah aku menjadi semakin rendah hati bahwa aku pun tidak pantas di hadapan-Mu. Amin.











