“Pokok Keselamatan”: Renungan, Rabu 15 September 2021

0
1870

Pw.  SP Maria Berdukacita (P)

Ibr. 5:7-9; Mzm 31:2-3a. 3b-4. 5-6. 15-16. 20; Yoh 19:25-27

Kesetiaan pada Allah adalah kekuatan rohani yang memurnikan manusia dari cacat cela, kelekatan-kelekatan dan hiburan duniawi yang menyengsarakan. Pemurnian itu membawa manusia agar dapat menerima anugerah, karunia-karunia dan penghiburan rohani yang lebih murni dan mendalam. Semua akan menjadi mungkin ketika kesetiaan itu diikuti dengan sikap taat dan penyerahan diri yang penuh kepada Allah.

Surat kepada Orang Ibrani menerangkan bagaimana Yesus meskipun sebagai Anak tetapi Ia belajar taat dari apa yang diderita-Nya. Yesus ikut ambil bagian dalam kelemahan manusia karena belas kasihan-Nya. Ia yang saleh mempersembahkan doa dan permohonan sehingga didengarkan oleh Allah yang sanggup menyelamatkan. Keselamatan yang sedemikian juga terbuka bagi setiap orang yang taat kepada Allah, karena Allah adalah pokok keselamatan. Ketaatan itu ditunjukkan lewat kesalehan dalam menjalankan agama dengan sungguh-sungguh.

Penderitaan dan pengorbanan Yesus di kayu salib adalah bukti ketaatan dan kesetiaan-Nya. Ia menerima semua penderitaan yang dialami-Nya. Ketaatan Yesus Kristus membuahkan keselamatan abadi bagi kita semua. Penderitaan Yesus Kristus itu juga menjadi dukacita dari Bunda Maria. Santa Perawan Maria Berdukacita yang kita rayakan hari ini merujuk pada saat-saat duka yang mendalam dalam kehidupan Maria. Sebagai Bunda Yesus, Maria tidak luput dari penderitaan dan kesedihan. Penderitaan dan kesedihan itu sangat erat dengan penderitaan dan kesedihan Yesus serta misteri Paskah-Nya.

Semua duka cita Maria adalah konsekuensi ketaatannya pada kehendak Tuhan. Ia memberikan dirinya secara total kepada Allah, hadir dan menyertai hidup Yesus. Maria bahkan tetap setia sampai detik terakhir hidup Yesus. Dalam suasana yang sedemikian Yesus menunjukkan pernyataan kasih seorang anak kepada ibunya. Dalam tradisi Yahudi, ibu yang ditinggal mati seorang anak tanpa keturunan tidak memiliki jaminan sosial. Ia butuh seorang yang bersedia menerimanya. Demikian peristiwa Yesus menyerahkan ibu-Nya kepada murid yang dikasihi-Nya. Tindakan itu merupakan simbol penyerahan Gereja-Nya kepada Maria Ibu-Nya. Sejak saat Yesus ditinggikan tercipta keluarga baru, jemaat murid-murid yang saling menerima sebagai anggota satu keluarga.

Perayaan hari ini menolong kita untuk terbuka pada kehendak Allah. Berbagai penderitaan dan pergumulan hidup yang kita alami senantiasa kita satukan dengan penderitaan Yesus dan Bunda Maria dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Sebab ketaatan dan kesetiaan pada Allah menjadi jaminan keselamatan kekal.

(Fr. Leon Ze)

“Ia menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua yang taat kepada-Nya” (Ibr. 5:9).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga teladan Maria menjadikan kami setia dan taat pada kehendak-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini