Pesta Salib Suci (M)
Bil. 21:4-9; Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38; Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17
Mercusuar atau biasa juga dikenal sebagai tiang cahaya dan tiang api sangat berperan dalam dunia kelautan. Mercusuar merupakan bangunan tinggi dan besar, seperti tiang yang dibangun tinggi agar dapat menjadi tanda untuk menuntun kapal sehingga tidak kandas dan tidak menabrak batu karang.
Bacaan hari ini memberikan makna tanda Salib Yesus Kristus dalam kehidupan kita. Yesus merupakan tanda ilahi dimana Allah menganugerahkan keselamatan kepada manusia. Dalam Kitab Keluaran, kita dapat melihat buah atau sarana keselamatan Allah kepada bangsa Israel melalui ular tembaga yang ditaruh di tiang sehingga bangsa Israel yang dipagut oleh ular tedung dapat memperoleh keselamatan.
Kini buah keselamatan Allah kepada manusia bukanya sebatas objek mati, melainkan person yang hidup, pribadi yang ada dan tinggal bersama-sama dengan kita yakni Yesus Kristus. Tanda tersebut bukan hanya dapat dilihat namun lebih dari itu dapat disentuh, berbicara dan memberikan pengalaman hidup yang luar biasa bersama Allah bahkan wafat di Kayu Salib untuk menebus dosa kita. Oleh karena itu bacaan Injil menegaskan bahwa tak seorang pun dapat sampai kepada Bapa jika tidak melalui Yesus. Ia harus ditinggikan dalam kehidupan semua orang yang percaya kepada-Nya.
Jika pada zaman Yesus salib dipandang sebagai hal yang mengerikan, memalukan bahkan kebodohan maka kita memperoleh makna baru melalui pengorbanan sengsara dan wafat Yesus di salib. Salib merupakan tanda suci yang menyembuhkan bahkan menyelamatkan kita semua sehingga kita memperoleh keselamatan Allah. Jika kita merasa bahwa salib penderitaan kita terlalu berat datanglah kepada salib Yesus. Hanya Dialah yang mampu memberikan kelegaan kepada kita sehingga seberat apa pun salib kehidupan, kita mampu memikulnya dan terus mengikuti Yesus.
Salib merupakan tanda kekuatan Allah yang begitu mengasihi manusia. Oleh karena itu Yesus yang tergantung di kayu salib bukan hanya sebatas gestur tubuh melainkan harus menjadi tanda kasih yang harus hidup di dalam batin sehingga kita mampu untuk mengasihi dan mengampuni sesama kita seperti halnya Yesus yang mengampuni dan mengasihi kita dengan memberikan diri-Nya sendiri.
(Fr. Ever N. Leftungun)
“Sebab Allah mengutus anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya” (Yoh. 3:17).
Marilah berdoa:
Ya Allah, tuntunlah aku agar dapat menghayati makna Salib-Mu. Amin.











