“Allah Sebagai Kunci Kehidupan”: Renungan, Senin 19 Oktober 2020

0
1989

Hari Biasa (H)

Ef. 2:1-10; Mzm. 100:2,3,4,5; Luk. 12: 13-21

Pada zaman sekarang, orang suka untuk hidup dengan penuh harta tanpa memikirkan kasih karunia yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Semua orang berusaha untuk mencari dan mengumpulkan harta duniawi untuk kebahagiaan di dunia tanpa memikirkan kebahagiaan di akhirat. Sarana teknologi yang canggih membuat tingkat kepuasan setiap orang menjadi tidak terkontrol. Orang semakin berusaha untuk mengumpulkan harta, agar terlihat kaya di mata orang lain.

Hari ini lewat penginjil Lukas, Yesus mengingatkan kita untuk selalu waspada terhadap harta kekayaan, karena dengan harta kekayaan setiap orang bisa saling bermusuhan. Harta kekayaan bisa membuat hubungan persaudaraan menjadi hancur. Bahkan harta kekayaan bisa menjadi tuan atas manusia. Hal inilah yang tidak diinginkan oleh Yesus, karena Yesus menginginkan agar setiap orang tidak diperbudak oleh harta duniawi. Tergambar dengan jelas bahwa orang kaya dalam injil hari ini, lupa bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara. Kekayaan yang ia miliki telah menutup hati dan pikirannya, sehingga dia tidak mengerti betapa pentingnya menjadi kaya di hadapan Tuhan.

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus kembali mengingatkan kepada kita bahwa kunci kehidupan hanya terletak pada Allah. Paulus mengatakan bahwa Allah yang kaya dengan rahmat, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus. Untuk itu, kita mesti percaya dan menjadikan Allah sebagai tumpuan dan harapan kita. Ia tidak ingin agar hidup kita di dunia ini menjadi sia-sia karena harta duniawi. Ia menginginkan agar kita semua memperoleh kasih karunia yang datang daripada-Nya.

Pertanyaannya, bagaimana untuk dapat memperoleh kasih karunia dari Tuhan? Untuk dapat memperoleh kasih karunia dari Tuhan, kita mesti beriman dengan sungguh kepada Yesus yang telah diutus Allah, agar anugerah keselamatan ada dalam hidup kita. Karena Allah menginginkan agar hidup kita di dunia ini, bukan untuk mencari dan menimbun harta kekayaan untuk kesenangan jiwa kita, melainkan hidup kita di dunia ini harus menjadi berkat bagi orang lain di sekitar kita. Sebagai orang beriman kita percaya bahwa Allah telah memberi segala yang kita butuhkan, sehingga kita tidak perlu untuk menyimpannya melainkan kita harus menjadi penerus kebaikan Allah kepada orang lain.

(Fr. Advento Adiputro Koraag)

“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” (Luk. 12:15).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah aku sebagai penyalur kebaikan-Mu terhadap sesama. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini