“Berani Demi Allah”: Renungan, Jumat 16 Oktober 2020

0
1722

Hari biasa (H)

Ef. 1:11-14; Mzm. 33:1-2,4-5,12-13; Luk. 12:1-7

Ada yang mengatakan, “orang jujur banyak dibenci”. Banyak kisah di sekitar kita memang menunjukkan bahwa orang yang jujur cenderung dapat banyak masalah. Tidak sedikit yang malah kehilangan pekerjaan, keluarga, bahkan nyawa. Lalu, supaya aman, orang bisa memilih diam dan membiarkan kemunafikan, kebohongan, dan ketidakadilan terus terjadi. Mungkin ada yang terpaksa ikut terlibat dalam kejahatan.

Memilih diam memang aman, tampaknya. Tetapi bukan seperti itu panggilan murid Kristus. Panggilan murid Kristus adalah untuk selalu berkontribusi pada kebaikan. Sabda Kristus pada hari ini sungguh meneguhkan kita. Ia mengingatkan kita bahwa kekuatan kita ada di dalam Dia, karena kita adalah orang-orang yang telah dimeteraikan dalam Roh Kudus. Dengan kata lain, kita adalah milik sah Allah yang pasti akan selalu dijaga-Nya melebihi burung pipit. Maka, kita diteguhkan untuk tidak takut berhadapan dengan segala kepahitan hidup maupun bahaya yang dapat membunuh tubuh. Oleh karena itu, takutilah Dia yang setelah membunuh tubuh, memiliki kuasa untuk melemparkan jiwamu ke dalam neraka. Kristus memberi tantangan kepada kita supaya menjadi orang yang sungguh percaya dan berani mempercayakan perlindungan kita kepada Allah yang Mahatinggi di dalam nama Yesus Kristus.

Rasul Paulus bahkan dalam terang Roh Kudus berkata, “Karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan”. Rasul Paulus yakin bahwa jika kita menaruh harapan pada Kristus, kita tidak akan pernah dikecewakan. Sebab kitalah yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya. Dalam hal ini, Roh Kudus menjadi jaminan bagi kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemulian-Nya.

Maka dari itu, bacaan Injil hari ini hendaknya bisa menjadi batu loncatan dalam cara berpikir dan bertindak kita selanjutnya. Orang yang jujur bukanlah orang lemah yang pasrah pada keadaan, melainkan orang yang yakin bahwa setelah kejujuran pasti akan terjadi kebaikan yang tak ternilai di mata Allah. Dan yakinlah bahwa kejujuran itu bagaikan air yang menyegarkan bunga di tengah kegersangan.

(Fr. Andre Talia)

“Bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Luk. 12:7).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah aku untuk dapat mewartakan kebenaran kepada sesama. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini