“Tanda Nabi Yunus”: Renungan, Senin 12 Oktober 2020

0
4278

Hari Biasa (H)

Gal. 4:22-24,26-27,31-5:1; Mzm. 113:1-2,3-4,5a,6-7; Luk. 11:29-32

Di suatu desa, hiduplah seorang ayah dan anak. Suatu ketika sang ayah berkata kepada anaknya; “Nak, aku mencintai engkau seumur hidupku”. Sang anak kemudian menjawab: “Apa buktinya?” Ayah tersebut kemudian diam dan berkata dalam hati, “Mengapa ia meminta bukti? Bukankah aku ini sudah menjadi bukti yang kuat?” Ia tentu merasa sedih, setelah sekian tahun ia mencurahkan kasih dengan tulus kepada puteranya, namun ternyata putranya meragukan itu.

Injil hari ini mengisahkan tentang Tanda Nabi Yunus. “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda,” sabda Tuhan. Kesalapahaman atau kejahatan bisa saja muncul karena orang tidak memahami tanda. Kehadiraan Yesus dan Yunus sebenarnya merupakan sebuah tanda ajakan untuk bertobat. Tanda keselamatan telah banyak diperbuat oleh Yesus seperti menyembuhkan mata orang buta, menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang yang telah meninggal. Semuanya itu merupakan tanda ilahi.

Hal yang membuat sehingga angkatan ini tidak percaya kepada Yesus ialah karena kedegilan hati mereka. Kedegilan hati mereka itu menunjukkan bahwa mereka merupakan orang-orang yang terbuka pada ajaran Yesus, namun mereka menutup hati dan merasa diri benar dari pada yang lain. Karena itu, Yesus menegur mereka dengan keras : “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat.” Tindakan Yesus itu mau menunjukkan bahwa Yesus adalah tanda sejati dari Allah. Dia adalah jalan kebenaran dan hidup. Jadi layak dan pantas bagi kita untuk mengikuti dan mendengarkan-Nya. Menarik bahwa Injil Lukas mengatakan posisi Yesus itu lebih tinggi dari nabi-nabi lainnya termasuk nabi Yunus. Akan tetapi karena kedegilan hati,  mereka tidak bisa melihat siapa Yesus sebenarnya.

Seruan Yesus ini juga ditujukan kepada kita. Dalam konteks kehidupan biasa, mungkin seruan Yesus itu tidak terlalu terasa. Namun ketika kita sedang menghadapi masalah yang sulit, iman kita kepada Yesus mulai tergoncang. Dalam keadaan seperti ini, kita mungkin akan berdoa, buktikan bahwa Engkau adalah penolongku, keluarkanlah aku dari masalah ini. Dengan berdoa seperti ini, bukankah kita sama seperti orang Yahudi yang meminta tanda dari Yesus? Ingatlah bahwa Yesus sendirilah tanda kasih itu. Yesus mengharapkan agar kita percaya dan taat kepada ajaran-Nya yakni saling mengasihi, saling menghormati dan selalu rendah hati. Dengan demikian, kita akan disebut sebagai anak-anak yang merdeka dalam kasih Yesus.

(Fr. Pieter Daing)

“Tuhan tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit”
(Mzm. 113:4).

Marilah berdoa:

Ya Yesus, bantulah aku untuk semakin peka melihat tanda-tanda kehadiran-Mu dalam hidupku. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini