“Menjadi Anak Kecil”: Renungan, Kamis 1 Oktober 2020

0
1934

Pesta Sta.Teresia dari Kanak-kanak Yesus, Perawan dan Pujangga Gereja (P)

Yes. 66:10-14b atau 1Kor. 12:31-13:13; Mzm. 131:1,2,3; Mat. 18:1-4

Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga? Siapakah yang terbesar? Siapakah yang terhebat? Siapakah yang terkaya? Seringkali pertanyaan-pertanyaan ini diperdebatkan oleh manusia. Khususnya pertanyaan pertama, yang muncul dalam bacaan Injil hari ini, seringkali diperdebatkan oleh orang kristen.

Penginjil Matius menceritakan tentang persoalan yang muncul dari pertanyaan para murid Yesus. Mereka bertanya kepada Yesus tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Yesus menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka, lalu menjelaskan pertanyaan para murid dengan perbandingan. Yesus berkata, “Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”.

Yesus memberikan tempat yang istimewa bagi anak kecil dalam penjelasan-Nya. Ia memberikan jawaban kepada para murid dengan menempatkan perhatian kepada seorang anak kecil. Sepertinya sikap jujur dari anak kecil dikehendaki Yesus. Namun Yesus tidak bermaksud untuk membuat anak kecil ini menjadi pusat dari pejelasan-Nya. Perikop ini memberikan tiga pesan kepada para murid-Nya.

Pesan pertama, para murid harus bertobat dari sikap yang senantiasa membandingkan diri dengan orang lain. Pertanyaan tentang siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga adalah sikap yang dikritik Yesus. Manusia sering membandingkan diri mereka dengan sesamanya. Sikap demikian tidak dikehendaki. Oleh karena itu, Yesus menegur mereka dengan berkata, “Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”.

Kedua, para murid-Nya diajak untuk hidup berpasrah kepada Allah. Pemazmur berkata, Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku;…Berharaplah kepada Tuhan,… . Sikap Pemazmur hendaknya dimiliki oleh manusia. Allah menghendaki supaya manusia selalu bergantung dan berharap kepada-Nya.

Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Perkataan ini mau memberikan pesan kepada murid-Nya bahwa mereka harus menyambut Allah dengan sungguh-sungguh. Pun demikian Yesus mau mengajak murid-Nya supaya menghargai sesamanya. Manusia yang tahu dan sadar bahwa Allah hadir di dalam diri sesamanya akan menghargai sesamanya.

Amanat dan pesan Injil hendaknya dilakukan umat beriman. Pesan-Nya bukanlah mustahil, karena Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus telah menghidupinya. Santa Teresia memberikan teladan bahwa setiap manusia dapat mewujudkannya.

(Fr. Christiano Mandagi)

“Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat. 18:3).

Marilah berdoa:

Allah Tritunggal Mahakudus, jadikanlah hatiku lemah-lembut dan rendah hati seperti seorang anak kecil. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini